EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Senin, 04 Januari 2016

Janji

"Makanya,.. Kurang-kurangin tuh berantem. Kalo udah gini, kan, bukan kamu aja yang susah, tapi aku juga!" gerutu gadis manis yang ada dihadapanku. Yang dengan setia membersihkan wajahku, dari darah yang mulai mengering sisa berantem sepulang sekolah tadi.

Kutatap dalam-dalam matanya. Dan aku bisa membaca isi hatinya, dari pancaran matanya, tentang kekhawatiran yang begitu dalam.

Seorang gadis manis berseragam SMA. Dengan mata bulat dan hidung bangirnya. Berwajah bulat, berambut ikal, dan berkulit sawo matang. Khas wanita Indonesia. Yang selalu setia menemaniku. Membasuh luka di tubuhku dengan penuh kasih. Seorang wanita yang selalu mencoba tersenyum dalam keadaan apapun. Tapi sebenernya aku pun tau, dia menangis melihatku seperti ini. Namun dia tak pernah memperlihatkan tangisnya. Dia sembunyikan itu jauh didalam lubuk hatinya.

"Kamu tau mengapa aku bisa begitu mencintaimu, meski kamu tak lebih dari seorang bajingan, yang tak bisa lepas dari tindakan yang berbau kriminal?"

Aku hanya bisa diam, menanti lanjutan kata-kata dari bibir mungilnya.

"Kamu tau seorang ibu? Dia adalah wanita, begitupun aku. Seorang ibu tak pernah lelah membimbing anaknya. Menasehatinya. Mendidiknya. Seorang ibu selalu ingin mendidik anaknya untuk menjadi anak yang hebat. Senakal apapun anaknya. Seorang ibu takkan pernah lelah membimbing anaknya. Begitupun aku, yang mungkin, calon ibu dari anak-anakmu. Aku hanya ingin membawamu keluar dari dunia liarmu. Ingin melangkah bersama, dalam indahnya cinta. Memulai hidup yang baru, dari awal, hingga mencapai akhir."

Ayu. Ayu Amelia. Itulah namanya. Seorang gadis yang mewarnai hariku, sejak dari bangku taman kanak-kanak. Gadis manis yang bertubuh ceking, yang rambutnya selalu dikuncir dua. Yang pernah mengartikan ajakan menikah, adalah ajakan untuk makan mewah.

"Ayu. Kalo udah besar nanti, maukah kau menikah denganku?" tanyaku, saat masih berseragam TK.

"Iya. Aku mau, aku mau!" teriaknya kegirangan.

"Yakin, kamu mau menikah denganku?"

"Iya! Aku mau. Nikah itu makan enak, kan?"

Dan akupun hanya bisa menyunggingkan bibir mendengar jawabannya.

          ######################

Satria Tri Sakti. Itu namaku. Aku mengenal Ayu saat masih duduk dibangku TK. Seorang anak kecil yang duduk dibangku barisan depan dekat pintu. Aku suka sekali memperhatikan gerakan kepalanya. Karena setiap kali ia bergerak, rambut kepang kudanya menari gemulai.

Dan waktupun terus berlalu. Dari seragam penuh warna dan berdasi kupu-kupu, tergantikan oleh seragam merah dan putih. Berganti lagi, menjadi biru dan putih. Dan tanpa terasa, seragam abu-abu dan putihpun telah kami tinggalkan. Dua puluh dua tahun sudah kami tinggalkan sejak pertama kali aku mengajaknya menikah. Yang ketika itu dia artikan sebagai ajakan untuk makan mewah. Kini dia tak lagi berseragam penuh warna, dengan dasi kupu-kupunya. Kini ia telah berseragam putih-putih, yang selalu sibuk keluar masuk dari satu ruangan ke ruang lainnya. Disalah satu Rumah Sakit terkenal disebuah kota. Kini ia telah menjelma menjadi seorang dokter. Dokter spesialis anak lebih tepatnya. Berbeda denganku. Aku hanya berseragamkan celana koyak yang penuh tambalan dengan kaos oblong. Dua buah lubang yang berhiaskan besi bulat yang menggantung ditelinga, serta tattoo dikedua lengan.

"Satria tau, mengapa Ayu ingin sekali menjadi Dokter spesialis anak? Karena Ayu ingin bisa menjadi seorang Ibu yang bisa mengobati anaknya. Membimbing, mendidik dan menjaga anaknya. Anak dari hasil cinta kita."

Dan aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya.

                 #################

"Ayu,.. Bisa kita bertemu. Ditempat biasa,  hari ini. Ada yang ingin aku bicarakan." ucapku saat menghubunginya dari Hp jadulku.

"Iya, Satria. Jam berapa?" jawab suara lembut diseberang sana.

"Jam 8 malem."

"Oke! Yaudah, aku harus periksa pasien. Sampai bertemu jam 8. I love you, Satria!"

Sejenak aku terdiam, sebelum akhirnya aku berkata, atau lebih tepatnya lagi berbisik, "I love you too, Ayu."

"Klik!" terdengar suara telpon dimatikan.

Meskipun panggilan telah diakhiri, tapi aku masih saja meletakkan hp ku ditelinga. Ada banyak yang ingin aku ucapkan, ada banyak hal yang ingin ku dengar. Dan perasaan bimbang semakin menggelayuti ku.

       #########################

Aku lirik jam dipergelangan tanganku, yang menandakan pukul setengah delapan. Jam pemberiannya, dihari ulang tahunku yang ke tujuh belas. Bukan jam tangan mewah. Hanya bermerk G-SHOCK warna hitam pekat, yang pada masa itu, menjadi jam tangan favorit dikalangan remaja dikampungku.

"Happy birthday, ya, sayang. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Semua yang baik-baik, deh, pokoknya." ucapnya seraya memberikan sebuah bungkusan kecil, yang ia bungkus dengan kertas bergambarkan lambang tim sepakbola Juventus, yang menjadi tim favoritku.

"Makasih, ya. Apa ini?"

"Buka aja."

Aku sobek kertas yang menghiasi bungkusan kecil itu.

"Gimana, suka?"

"Suka. Pake banget, malah. Makasih, ya." jawabku seraya memberikan kecupan dikeningnya.

"Aku kasih hadiah jam ini, biar kamu gak sering telat."

"Aku tuh gak pernah telat, tau."

"Terus,..?"

"Jam masuk sekolahnya aja yang terlalu cepat."jawabku sambil tersenyum.

Dia pukul lenganku, dan kudekap dia kedalam pelukanku.

"Hey! Ngelamun aja. Sampe gak sadar, kalo Ayu disamping kamu." terdengar suara lembut yang membuyarkan lamunanku.

"Satria ngelamunin apaan, sih? Ngelamunin cewek lain, ya?" lanjutnya sambil menggembungkan pipi dan sedikit memonyongkan bibirnya pura-pura manyun.

"Gak. Bukan apa-apa, koq." jawabku sembari tersenyum.

"Satria, udah lama nunggu Ayu disini?"

"Gak juga. Baru aja, koq." jawabku masih dengan tersenyum.

"Gimana kerja hari ini?" tanyaku.

"Capek! Tapi seneng!" jawabnya mantap.

"Tadi ada anak yang di diagnosa kanker darah. Kasian sekali. Anak sekecil itu, udah harus menderita penyakit seperti itu."

Aku hanya diam, tanpa berkomentar. Karena aku tau, dia akan melanjutkan kata-katanya.

"Ada apa Satria ingin bertemu Ayu disini?"

Beberapa saat aku terdiam, begitupun dirinya, yang juga terdiam, menantikan kata pertama yang keluar dari mulutku.

"Kamu tau Garong? Dia nantangin aku duel."

"Lalu?"

"Dia bilang, setelah ini, menang ataupun kalah, dia ataupun anak buahnya gak akan lagi ganggu aku ataupun teman-temanku. Jadi aku terima tantangan dia."

"Aku berjanji, ini untuk yang terakhir kali." imbuhku.

Aku berbalik. Menghadap kearahnya. Kupegang pundaknya dan kutatap matanya.

"Aku berjanji, akan kembali untukmu. Aku berjanji, akan selalu menjaga dan melindungimu. Seandainya aku mati nanti, aku berjanji, akan tetap ada disisimu. Menjagamu. Melindungimu. Meski tanpa ragaku."

Ia hanya terdiam. Namun dapatku lihat, matanya yang mulai berkaca. Meskipun ia tahan dan coba sembunyikan, aku dapat melihat itu.

"Aku berjanji, setelah ini, kita akan pergi jauh dari sini. Kita akan memulainya dari awal. Menikah. Punya anak. Dan kita akan hidup bahagia disebuah desa. Yang jauh dari hingar-bingar kota. Yang jauh dari tindakan kriminal."

Aku lepaskan peganganku pada pundaknya. Ia usap rambutku sembari tersenyum. Namun tetap membisu, tanpa kata. Aku berjalan, lalu duduk di rerumputan. Dia pun mengikutiku. Duduk didepanku, dan merebahkan tubuhnya didadaku. Dan ku peluk dia dari belakang.

Malam ini, kami habiskan waktu disuatu tempat. Bukan taman, bukan juga pantai. Ini hanyalah tempat biasa yang sering kami datangi. Tanpa bunga yang tertata rapi, tanpa lampu taman yang indah, tanpa pasir putih, juga tanpa nyiur yang melambai. Yang ada hanya beberapa pohon yang tumbuh, bunga liar, serta ilalang. Namun yang kami suka dari tempat ini, tempatnya lebih tinggi dari sekitarnya. Sehingga, apabila kita melihat kebawah, maka akan terlihat jelas lampu-lampu dikejauhan bak kunang-kunang. Dan apabila kita mendongakkan kepala, maka kita dapat melihat ribuan bintang yang berkilauan bak batu permata. Selain itu, riuhnya binatang malam, yang seolah, seperti nyanyian alam.

Aku rebahkan tubuhku diatas rerumputan. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Tetap ku peluk ia dari belakang, rasanya tak ingin aku lepaskan. Kami habiskan malam ini dalam keheningan. Tanpa kata. Tanpa suara. Hanya nada didalam jiwa yang bicara.

         #######################

Aku berlari sekuat tenaga, melompat, melayang, dan ku hantamkan tinjuku kearah wajahnya yang tepat mengenai pelipisnya. Namun tendangnya pun mendarat tepat diperutku. Kami sama-sama terlempar. Dengan sedikit menahan rasa sakit, aku coba untuk bangkit. Berjalan menghampiri Garong. Kami berdiri berhadapan. Kukepalkan tinjuku kewajahnya, dia membalas. Kami saling berbalas tinju.

"Bah!" dia meludah dihadapanku.

"Cuma segini doang, kekuatan lu?" ucapnya bernada sombong.

"Tak usah banyak omong kau!"

Kutarik leher bajunya. Lalu kuhempaskan kepalaku dikepalanya. Dan ia membalas dengan sebuah tonjokan yang tepat mengenai hidungku. Aku tersungkur. Darah mulai mengalir dari kedua lubang hidungku. Dengan sempoyongan, aku coba untuk berdiri. Namun belum juga berdiri tegak. Tiba-tiba kakinya telah mendarat di dadaku tanpa bisa aku halau. Aku terhempas. Mulutku mulai terasa getir oleh darah yang mengalir.

"Cuih!" aku meludahkan darah yang membuat mulutku terasa tak enak.

"Berdiri, lu, pecundang!"

Aku bangkit. Dan kuhempaskan tinjuku kearah wajahnya. Namun sayang, dia bisa menghindar. Kucoba untuk memukul wajahnya lagi, namun dia masih bisa menghindar lagi. Dalam keadaan goyah, dia pukul bagian belakang kepalaku. Aku tersungkur. Dan dengan leluasa, ia menginjak-nginjakku.

"Ayo! Berdiri, lu, pecundang!" teriaknya ditelingaku.

Aku coba berdiri. Namun tendangannya di pipiku membuatku tersungkur lagi. Dia pun tertawa terbahak-bahak. Ku ambil nafas, lalu berdiri. Aku tak boleh kalah. Aku tak boleh mati. Karena aku memiliki janji. Aku sedikit menjauh darinya. Untuk sesaat memulihkan tenaga. Setelah ku rasa cukup, aku menghampirinya. Dia mencoba memukulku, namun dapat kuhalau. Dan beberapa pukulanku pun berhasil mengenai wajahnya. Dia tersungkur. Dia berusaha berdiri. Namun terjanganku dikepalanya membuat Garong tersungkur kembali. Aku menaiki tubuhnya. Dengan leluasa kupukuli wajahnya. Dia mencoba berkelit. Dan didorongnya tubuhku dari atas tubuhnya. Aku terguling. Dan dia berhasil menindihku serta menghadiahiku bogem mentah dengan beruntun. Kami saling berguling, menindih, menghempaskan pukulan bergantian. Hingga rasanya tak ada lagi tenaga yang tersisa. Namun kami harus selesaikan pertarungan ini. Kami saling menjauh. Mencoba untuk mengambil nafas dan sedikit memulihkan tenaga. Setelah dirasa cukup, kami berjalan mendekat. Namun aku tak tau, Garong memiliki rencana busuk. Dia selipkan sebilah pisau digenggamannya. Dipegang secara terbalik, dengan gagang dibawah, dan mata pisau diatas. Dia sembunyikan dibalik lengannya yang tak terlihat olehku. Saat kami telah dekat, baru saja akan kulayangkan tinjuku. Tiba-tiba, dengan sangat cepat, dibaliknya pisau dalam genggamannya dan dihunuskan ke perutku. Benda yang terasa dingin itupun berhasil menembus perutku. Dicabutnya pisau tersebut, lalu dihunuskan lagi, lagi, dan lagi. Hingga lima lubang menembus tubuhku. Aku tersungkur. Terkapar. Garongpun tertawa lepas bak raungan sekawanan singa seusai membunuh mangsanya.

"Keparat kau, Garong! Pecundang!"

Namun dia tidak memperdulikan caci-maki ku. Dia berjalan perlahan dan meninggalkanku yang terkapar.

         #######################

Aku merangkak, mencari hp yang tadi aku letakkan ditanah sebelum berantem tadi. Aku pijit beberapa tombol angka.

"Tutt,... Tutt,..."

"Plis, Ayu. Angkat."

"Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Mohon hubungi beberapa saat lagi." bukan suara Ayu, namun suara operatorlah yang aku dengar. Ku ulangi lagi, lagi, dan lagi. Namun tetaplah suara operator yang menjawab panggilanku.

"Ayu, plis. Angkat." teriakku lirih.

Ku pijit lagi nomer kontak ayu.

"Tutt,... Tutt,..."

"Ayo, Ayu. Angkat." ucapku dalam hati.

"Klik!" terdengar telepon diangkat.

"Ayu. Jemput aku sekarang!"

"Kamu kenapa, Satria?"

"Jemput aku sekarang." ucapku mengulangi perkataanku dan memberitahukan lokasiku saat ini.

Rasanya aku sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Darah telah banyak mengalir dari tubuhku. Aku rebahkan tubuhku. Bayangan akan indahnya hari ku bersama Ayu melintas dibenakku. Akan semua hal. Tentang tawa, tentang duka, dan juga tentang janji yang pernah ku ucap. Janji, sesaat sebelum aku datang ketempat ini. Semuanya terekam jelas diotakku. Seperti sedang menonton film dari sebuah video. Hingga pandanganku buram, semakin buram, buram dan buram. Dan akhirnya hanya menyisakan warna hitam yang teramat pekat.

          #######################

Seorang gadis berjalan kesebuah makam. Makam yang agak jauh dibelakang. Dekat dengan rimbunnya pohon bambu. Dilihat dari tanahnya, itu adalah sebuah makam baru. Masih terlihat jelas tanah yang belum memadat. Sebuah payung kecil, yang terbuat dari kertas, pun, belum koyak. Bahkan bunga yang ditaburkan diatasnya masih tampak segar. Iya. Kuburan itu memang masih baru. Karena baru saja diisi, beberapa jam lalu.

Gadis itu duduk. Namun tidak menempelkan pantatnya ke tanah. Hanya menempelkan dikedua kakinya sebagai penopang. Lalu dia khusuk membacakan do'a, untuk seseorang yang bersemayam disana. Dalam linangan air matanya, ia berkata, "aku tau, kamu akan tetap menepati janjimu. Kamu akan tetap ada disisiku, menjagaku, dan melindungiku. Selamat jalan, wahai kekasihku." ucapnya lirih sambil mencium nisan yang ada dihadapannya.

"Ayu, sudahlah. Dia sudah tenang disana. Baru saja pagi tadi kau mengantarkannya, tapi sore ini, kau datang lagi, seakan tak rela melepaskannya. Dia pasti sedih disana, melihatmu seperti ini. Mari kita pulang." ucap seorang wanita setengah baya dengan tubuh sedikit gempal. Yang tak lain adalah ibuku.

Dan dibangunkannya gadis tersebut. Dituntun dan dibimbingnya untuk pulang. Meninggalkan sebuah makam yang masih baru, dengan sebuah nisan yang tertulis sebuah nama, Satria Tri Sakti.

3 komentar: