EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Sabtu, 16 Januari 2016

Senja, rintik hujan dan nyanyian rindu.

Senja ini langit gelap, dengan tetesan kecil yang ia jatuhkan. Setiap rintiknya yang menimpa dedaunan, berdenting menghasilkan nada, nyanyian rindu. Rindu yang telah lama ia pendam. Rindu yang selalu menghujam. Akan rindunya kepada semesta, yang telah beberapa lama tak disinggahinya.

Senja ini langit gelap. Berhiaskan cahaya kemilau, diiringi suara guntur yang bertaluan. Meski langit tidak menumpahkan airnya dengan lebat, namun halilintar senja ini sungguh dahsyat. Seolah ingin meluapkan segala rindunya dengan lantang. Rindu yang telah lama ia genggam. Rindu yang selalu merajam. Rindu akan semesta, yang telah lama tidak ia sapa.

Senja ini, ditemani rintik hujan yang mengetuk pintu kerinduan. Kuhisap kreasi seni yang dihasilkan dari tembakau. Kuhirup dalam-dalam. Agar masuk ke jantungku, meracuni rindu dan membunuhnya. Namun apadaya, belum lagi menyentuh jantungku, telah kuhempaskan dengan kasar kepulan asap yang mengandung nikotin bersama batuk yang merajang. Aku gagal membunuh rindu. Dan kubiarkan ia meraja. Hingga perlahan, kudapat menikmatinya.

Senja ini. Masih dengan rintik hujan yang membawa tetesan rindu. Langit masih gelap. Begitupun guntur, masih mengelegar. Ingin sekali aku sepertinya, mampu meneriakkan segala kerinduan. Dengan gahar! Dengan lantang! Namun setiap kali aku coba meneriakkan rinduku, selalu tercekat dilidah. Tertahan ditenggorokan. Dan sekali lagi, kubiarkan rindu meraja. Hingga perlahan, kudapat menikmatinya.

Langit senja masih juga gelap. Meski rintik hujan telah reda. Kutitipkan rinduku, bersama sepoi angin senja yang dingin setelah hujan. Terbang jauh, hingga mencapai ujung pelangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar