EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Senin, 30 November 2015

Mengagumimu Dari Jauh

Pagi ini awan hitam masih menggantung di angkasa. Rintik hujan membasahi bumi yang fana. Sesekali terlihat cahaya emas dari sang kilat menyapa dunia. Seakan ingin menunjukkan kekuatannya. Di pagi hari, di ujung bulan November.

Kucabut headset yang sedari tadi menempel ditelinga. Memutar lagu November Rain dari G 'n R. Entah mengapa, rasanya hari ini gue kaga bisa lepas dari lagu itu. Entah udah berapa kali gue ulang lagu tersebut.

"Hish,..!! Udah hari senin, ujan pula. Bete dah gue!! Terdengar ditelingaku. Seorang gadis manis yang sedang menggerutu. Meskipun jarak gue dengan dia kaga deket, tapi masih bisa gue rekam dengan jelas ditelinga. Berwajah tirus dan bermata sipit. Yang ketika tertawa selalu memejamkan mata. Mungkin disaat ia tertawa, dan ditinggalkan oleh teman-temannya, ia takkan pernah tau.

Vanesza, itulah namanya. Gadis tionghoa, yang menjadikan hijab bukan hanya sekedar trend kekinian. Yang selalu aktif di bidang agama. Bibir tipisnya, hidung mancungnya, yang selalu membuatku terpana.

Rintik hujan masih terus menyapa dunia. Seolah ingin memberi kesejukan untuk dunia yang fana.

" Tett,.. Tett,..!!"

Terdengar bunyi bel tanda masuk. Dan semua murid memasuki kelas masing-masing. Tak terkecuali aku, dan juga gadis manis Tionghoa yang berhijab itu. Yang secara kebetulan satu kelas denganku. Kelas XII Ips 3.

Hari ini gue kaga bisa menyimak pelajaran yang dijelaskan oleh guru gue. Gue terlalu sibuk memperhatikan Vanesza, yang duduk dibagian depan dari bangku gue, disudut paling belakang. Tingkah lakunya, gerak tubuhnya, tak pernah lepas sedetikpun dari pandangan gue. Dan tak terasa, bel tanda istirahatpun berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Tak ubahnya seperti orang yang mencari perlindungan disaat gempa.

"Hai,.. Boleh gue duduk disini? Semua kursi udah penuh terisi. Hanya menyisakan ini yang masih kosong." tanya gue kepada Vanesza. Yang duduk disudut kantin, dengan dua kursi namun hanya satu meja.

"Oh,.. Silahkan." jawabnya terasa lembut mengalun ditelinga.

Ingin rasanya gue mengajak ia ngobrol. Namun apadaya, lidah ini mendadak terasa kaku. Tak sanggup mengucap sepatah katapun.

"Hey,..!! Bengong aja. Awas, entar ayam tetangga pada mati."

"Ayam tetangga udah gue jadiin ayam bakar bareng temen-temen." jawab gue mencoba bercanda.

"Vanes duluan, ya. Udah kelar nih.

" owh,.. Iya."

Gue hanya bisa memandang punggungnya yang perlahan meninggalkan gue. Yang perlahan menghilang, dari pandangan gue.

####################

Tak terasa, waktu seolah begitu cepat berlalu. Dan ini adalah hari terakhir gue berada disekolah ini. Sekolah yang banyak menyimpan kenangan. Yang menjadi saksi, akan cinta gue terhadap Vanesza. Si gadis Tionghoa yang berhijab.

"Hey,..!! Bengong aja. Lagi ngelamunin apaan sih?" tanya Vanesza.

"Lagi ngelamunin elu. Bentar lagi gue kaga bisa ngeliat senyum manis lu lagi." jawab gue sedikit ngegombal.

"Elah,.. Sejak kapan lu bisa ngegombal? Biasanya juga dideketin cewek, panas-dingin lu."

"Hee,.." hanya cengiran kuda yang bisa gue keluarkan untuk menjawab pertanyaannya.

"Kamu mau lanjut ke bangku kuliah?" tanyaku.

"Iya."

"Mau ambil jurusan apa?"

"Gue ingin ambil 2 jurusan langsung."

"Wuih,.. Hebat! Mau ambil jurusan apa?"

"Yang pertama DKV. Karena gue suka dengan Design Visual. Yang kedua Dokter. Tapi gue udah berjanji sama diri gue sendiri, gue kaga bakalan mengambil keuntungan dari ilmu kedokteran gue. Gue ingin membantu orang-orang yang kaga mampu untuk berobat. Pokoknya, gue kaga bakalan makan dari gelar Dokter gue."

"Luar biasa. Jarang-jarang loh, ada anak muda yang berpikiran seperti itu. Good luck ya, untuk DKV dan Dokternya."

"Iya. Makasih, ya."

Dan detik-detik selanjutnyapun berlalu dalam keheningan.

"Ehh,.. Gue cabut dulu, ya. Mau kumpul sama temen-temen genk gue."

"Owh,.. Silahkan."

Dan sekali lagi, gue hanya bisa menatap punggungnnya yang perlahan meninggalkanku seorang diri. Vanesza, taukah kamu?
Tanpa pernah kau berkata, gue tau apapun tentang lu. Tak pernah lekang sedikitpun, untukku mengagumimu.  Maka izinkanku memeluk bayangmu, meski tak bisa memeluk ragamu. Izinkanku mencintaimu, tanpa harus memilikimu. Bukanku tak percaya diri, tetapi karena aku tau diri. Kamu tau? Aku mengagumimu, meski dari jauh.




"Terinspirasi dari lagu Tulus yang berjudul mengagumi dari jauh."

Kamis, 12 November 2015

Untukmu, Ayah.

Berhubung disuasana #HariAyahNasional, kali ini gue ingin ngebahas tentang sosok yang sangat gue banggakan. Sosok yang rela berpanas-panasan dan bermandikan peluh hanya untuk menafkahi keluarganya. Yang tak pernah lelah, menjaga dan membimbing anak-anaknya.

Papah, begitulah gue memanggilnya. Beliau hanyalah seorang buruh bangunan. Dari gue kecil, bokap gue sering merantau meninggalkan anak-istri demi menjaga agar dapur tetap ngebul.

Bokap gue hanya lulusan SD. Sewaktu kecil, bokap gue pindah dari Jawa ke Sumatra. Lebih tepatnya ke Lampung. Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar, beliau tidak melanjutkan pendidikannya. Beliau lebih memilih bekerja sebagai buruh bangunan. Diusianya yang masih sangat belia, beliau sudah harus berjibaku dengan panas dan beratnya bekerja sebagai kuli bangunan. Beliau mau mengerjakan itu karena beliau sadar, beliau bukan terlahir dari keluarga kaya raya. Beliau sadar, keluarga beliau hanya menumpang disalah satu rumah kerabatnya yang telah lebih dulu pindah ke Lampung. Dari situlah hati beliau tergerak, untuk bekerja keras dan memberikan sebuah rumah untuk kedua orangtuanya. Meski hanya beratap ilalang dan berdindingkan anyaman bambu dan beralaskan tanah. Namun rasanya akan sangat bahagia, apabila kita tinggal dirumah sendiri, sesederhana apapun itu.

Hari terus berlalu, meninggalkan jejak keras diatas adukan semen. Minggu berubah, dan tahunpun berganti. Sedikit demi sedikit receh rupiahpun mulai terkumpul, hingga akhirnya mampu membuatkan sebuah rumah untuk kedua orangtuanya. Berdua bersama sang adik, bahu membahu untuk mewujudkan mimpi sederhana. Memiliki gubuk, untuk berkumpul bersama keluarga.

Disaat menatap bayangan diri gue sendiri dibalik cermin, terkadang gue ngerasa malu. Terbersit pertanyaan dalam sanubari, "Apa yang udah gue berikan kepada orangtua gue?" kebahagian? Rasanya gue selalu membuat kecewa kedua orangtua gue. Bahkan untuk memberikan momongan cucu pun, gue masih belum mampu. Karena sampai detik ini aja gue masih jomblo dengan embel-embel akut. Ehh,.. Koq malah baper sih?

Buat papah, selamat hari ayah! Semoga papah selalu diberikan kesehatan, selalu dalam lindunganNya, dan senantiasa bahagia selalu. Terimakasih telah menjadi kepala keluarga yang hebat. Yang tak pernah lelah menjaga dan membimbing kami. Maaf, jika kakak belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga.
I love u, pah!