Belakangan ini, santer terdengar kabar bahwa harga rokok akan dinaikan menjadi Lima Puluh Ribu Rupiah per bungkusnya dengan tujuan untuk mengurangi tingkat perokok di Tanah Air. Hal ini pernah dilakukan oleh negara Australia, dan itu berhasil mengurangi jumlah perokok di Australia. Namun pepatah bilang, "Lain ladang, lain ilalang". Meski tak punya uang, mari kita bergoyang. Ehh,.. Gak nyambung, ya? Intinya Indonesia dan Australia berbeda. Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang ngeyel, mungkinkah progam ini akan berhasil?
Dewasa ini, bukan lagi sandang, pangan dan papan yang menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian rakyat Indonesia. Tapi telah berubah menjadi Rokok, Bensin, dan Kuota Internet. Makanya ada pepatah baru yang mengatakan, " Mangan ora mangan sing penting ngudud" (Makan gak makan yang penting merokok). Jadi, seberapa mahalnya harga rokok. Seberapa mahalnya harga bensin dan seberapa mahalnya harga kuota internet, sebagian orang akan tetap membeli. "Mangan ora mangan sing penting motor ngebul."
Gue adalah salah satu perokok aktif. Namun gue sangat mendukung progam pemerintah untuk menaikkan harga rokok hingga beratus-ratus kali lipat tersebut. Kenapa? Karna gue sadari, perokok saat ini bukan hanya dikonsumsi oleh orang-orang dewasa yang telah mampu menghasilkan uang (baca pekerja). Namun rokok juga dikonsumsi oleh anak-anak ingusan yang masih mengenakan seragam pendidikan (baca anak sekolahan). Dengan harga rokok yang melambung tinggi, tentunya akan sangat mustahil bagi para pelajar untuk membeli rokok. Karna uang saku yang orang tua mereka berikan hanya sejumlah harga lontong sayur. Karna emang orang tua mereka memberikan uang saku untuk ongkos naik angkot berangkat dan pulang sekolah dan sebagai uang makan anak ketika di Sekolah, bukan untuk membeli rokok.
Disaat pemerintah menerapkan program tersebut, yang gue anggap sebagai langkah untuk mengurangi jumlah perokok, tentunya pemerintah harus memperhatikan banyak aspek. Seperti yang gue tulis diatas, bahwa rokok telah menjadi kebutuhan pokok bagi para perokok. Jadi para perokok akan mencari jalan lain agar tetap bisa merokok. Contoh ngelinting. Hal ini biasanya dilakukan oleh kalangan perokok berumur. Alias mbah-mbah. Harga tembakau olahan yang relatif murah, tampaknya akan mampu menggantikan peran rokok pabrikan. Dan yang sangat amat gue khawatirkan, jika harga rokok sebanding dengan harga cimeng (ganja), atau bahkan melebihi harga cimeng, akan sangat rentan para perokok beralih ke cimeng. Jadi pemerintah harus lebih tegas lagi dalam memberantas Narkoba khususnya cimeng.
Apabila program ini berhasil, apakah pemerintah sudah siap? Kita semua tau, bea cukai dari rokok adalah salah satu sumber devisa terbesar negara. Dengan mengurangnya perokok, maka mengurangi juga pemasukan devisa. Terlebih lagi jika banyak pabrik rokok yang kolap, maka akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Gue harap pemerintah bukan hanya membuat program untuk mengurangi jumlah perokok, tapi pemerintah juga harus benar-benar telah siap dengan program antisipasi jika program penurunan jumlah perokok berhasil. Agar keadaan ekonomi tetap stabil tanpa adanya demo disana-sini akibat dari gulung tikarnya perusahaan-perusahaan rokok. Dan gue berharap, pemerintah telah benar-benar siap dengan itu.
Meskipun pro dan kontra akan tetap ada dari setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sebagai warga negara yang baik, tentunya kita harus menghormati apapun kebijakan yang dibuat pemerintah. Kita boleh menyuarakan aspirasi kita, namun jangan sampai aspirasi kita justru memecah belah bangsa kita sendiri. Menurut gue gak perlu debat hingga mengeluarkan urat saraf, apalagi hingga mengeluarkan urat kemaluan, antara perokok ataupun aktivis anti rokok. Kita tetap satu Indonesia, jadi berdebatlah yang cerdas. Jika temen-temen adalah seorang perokok, dan gue sendiri, pun, seorang perokok, mari kita semua bekerja lebih giat lagi jika tetap ingin bisa merokok dengan harga rokok yang melangit.
Sabtu, 20 Agustus 2016
Kamis, 18 Agustus 2016
Malem Jum'at Keabisan Obat
Kaga terasa, udah malem jum'at lagi, waktunya ikeh-ikeh kimochi perasaan tadi baru hari kamis, deh.
Malem jum'at. Malem dimana dalam cerita turun-temurun dari leluhur kita adalah malam disaat para makhluk tak kasat mata berkeliaran. Mungkin itulah alasannya kenapa malem ini gue rasanya seperti kesetanan. Perasaan resah, tidur gelisah, selangkangan laju basah. Ehh,.. Yang terakhir boong.
Entah kenapa. Hari ini rasanya kalut berkepanjangan. Pikiran jadi ruwet. Ujung-ujungnya bingsal sendiri. Rasanya kaga karuan. Pengen gue kasih kucing, kucingnya, pun, muntah. Kampret, kan?!
Dunia adalah pusat dari segala pesakitan. Dimana segala beban terkumpul. Terkadang, rasanya kaga kuat lagi tertampung. Yang akhirnya hanya membuat pikiran jadi runyam.
Terkadang, ada banyak sekali hal yang ingin di sampaikan. Namun tak semua dapat keluar, yang akhirnya hanya mengendap di dada. Menyesaki seluruh rongga dada. Namun terkadang, bicarapun terasa percuma. Saat berfikir semua hanya akan terasa percuma.
Terkadang, disaat kita bicara, kita selalu merasa apa yang kita bicarakan itu benar. Sekalipun itu salah. Tapi kita tak perduli. Tanpa instropeksi apakah yang kita bicarakan itu sudah pasti benar. Terkadang semua terasa membingungkan, dan hanya menghasilkan sebuah umpatan panjang, "Kampang!!"
Ada banyak hal yang berputar-putar dikepala, yang rasanya nyaris meledak. Ada banyak hal yang menyesakkan dada. Ada banyak hal yang melukai jiwa. Terkadang kita menjadi bodoh, bahkan sangat bodoh, karna masih juga bertahan dari semua rasa itu. Namun terkadang, meskipun kita tau tindakan itu bodoh, dan tanpa alesan yang jelas, kita tetap bertahan, seolah diri kita kebal dari segala pesakitan, meskipun yang ada meluluh-lantakkan kita.
Namun dengan sombongnya, dengan segala keangkuhannya kita tetap bertahan. Dengan congkaknya kita berkata, "Bakalan gue nikmati setiap detik dari rasa sakit ini!", walaupun sesungguhnya umpatan demi umpatan lah yang ada. Kampang!!
Malem jum'at. Malem dimana dalam cerita turun-temurun dari leluhur kita adalah malam disaat para makhluk tak kasat mata berkeliaran. Mungkin itulah alasannya kenapa malem ini gue rasanya seperti kesetanan. Perasaan resah, tidur gelisah, selangkangan laju basah. Ehh,.. Yang terakhir boong.
Entah kenapa. Hari ini rasanya kalut berkepanjangan. Pikiran jadi ruwet. Ujung-ujungnya bingsal sendiri. Rasanya kaga karuan. Pengen gue kasih kucing, kucingnya, pun, muntah. Kampret, kan?!
Dunia adalah pusat dari segala pesakitan. Dimana segala beban terkumpul. Terkadang, rasanya kaga kuat lagi tertampung. Yang akhirnya hanya membuat pikiran jadi runyam.
Terkadang, ada banyak sekali hal yang ingin di sampaikan. Namun tak semua dapat keluar, yang akhirnya hanya mengendap di dada. Menyesaki seluruh rongga dada. Namun terkadang, bicarapun terasa percuma. Saat berfikir semua hanya akan terasa percuma.
Terkadang, disaat kita bicara, kita selalu merasa apa yang kita bicarakan itu benar. Sekalipun itu salah. Tapi kita tak perduli. Tanpa instropeksi apakah yang kita bicarakan itu sudah pasti benar. Terkadang semua terasa membingungkan, dan hanya menghasilkan sebuah umpatan panjang, "Kampang!!"
Ada banyak hal yang berputar-putar dikepala, yang rasanya nyaris meledak. Ada banyak hal yang menyesakkan dada. Ada banyak hal yang melukai jiwa. Terkadang kita menjadi bodoh, bahkan sangat bodoh, karna masih juga bertahan dari semua rasa itu. Namun terkadang, meskipun kita tau tindakan itu bodoh, dan tanpa alesan yang jelas, kita tetap bertahan, seolah diri kita kebal dari segala pesakitan, meskipun yang ada meluluh-lantakkan kita.
Namun dengan sombongnya, dengan segala keangkuhannya kita tetap bertahan. Dengan congkaknya kita berkata, "Bakalan gue nikmati setiap detik dari rasa sakit ini!", walaupun sesungguhnya umpatan demi umpatan lah yang ada. Kampang!!
Langganan:
Postingan (Atom)
