EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Senin, 13 Juni 2016

Adzan Maghrib, sebatang rokok dan rintik hujan.

Rintik hujan turun saat Adzan Maghrib berkumandang. Membasahi bumi membawa kesejukan. Dalam dinginnya petang ini. Kunyalakan sebatang rokok untuk sekedar memberi kehangatan. Kuhisap dalam-dalam lalu kuhembuskan. Hujan rintik-rintik masih terus berjatuhan. Disebuah pinggiran ibukota. Dimana kulabuhkan jangkar harapan disana. Entah itu tentang asa, cita, ataupun cinta.
Dalam kesendirian, tiba-tiba aku terhenyak oleh sebuah pertanyaan yang datang menyeruak singgah dikepala. Adilkah hidup ini?

Dalam sebuah perjalanan kehidupan, tentunya ada banyak hal menyakitkan yang silih berganti menghampiri. Karena dunia adalah pusat dari segala pesakitan. Banyak hal menyakitkan yang ada di dunia ini. Entah itu soal asa, cita ataupun cinta. Bahkan tak jarang, kita merasa bahwa hidup ini tidak adil. Namun apakah memang demikian? Atau hanya saja kita yang tidak dapat melihat keadilan dari sebuah perjalanan hidup? Think again!
Sayup-sayup Adzan maghrib masih terdengar, rintik hujanpun masih terus berdatangan. Kuhisap kembali sebatang rokok dalam-dalam, lalu kuhembuskan.

Hmm,.. Mungkin kita yang terlalu banyak menuntut. Dan berharap semua tuntutan tersebut terwujud. Terkadang kita memang serakah. Namun kita tak menyadarinya.

Masih dipetang ini. Dengan segala kejenuhan yang ada. Dimana kejenuhan mulai terasa menjadi beban. Keletihan terasa telah berdiri dititik puncak tertingginya. Terasa melangkahkan kaki tak tentu arah. Tanpa tujuan! Disaat-saat seperti ini, aku ingin melaluinya sendiri, tanpa siapapun. Ingin kurengkuh dalam kesendirian. Bercumbu dengan segala rasa sakit. Merasakannya detik demi detik. Hingga akhirnya, aku mampu menikmati setiap detik kesakitannya.

Dengan kesombongannya, dunia memaksa kita untuk berpacu melawan waktu. Dengan keangkuhannya, dunia memaksa kita untuk terus bertahan. Dunia memang kejam, kawan! Jadi kita harus memiliki semangat yang lebih kejam untuk mampu melawan. Untuk mampu meredam.

Masih dipetang ini. Adzan maghrib tak lagi terdengar. Namun rintik hujan masih terus berdatangan. Kembali kuhisap rokok yang terselip dijari-jemariku dalam-dalam. Lalu kuhembuskan. Tampak gumpalan awan putih berhamburan. Terbang semakin tinggi, tinggi, dan tinggi, lalu menghilang. Terbang jauh bersama segala kekacauan. Kunikmati sepiring mie instan goreng yang mulai mengembang. Yang sengaja kusajikan sebagai menu santap berbuka puasa petang ini. Selamat malam, kawan! Senang melihat semangat kalian masih terus terbakar!

Selasa, 07 Juni 2016

Kamu (wanitaku)

Kamu adalah salah satu wanita terhebat dalam hidupku. Hadirmu mampu membuat hari-hariku lebih berarti. Kamu merubah sisi liarku. Kamu mampu merubah gaya hidupku. Hidupku yang awalnya gak jelas. Selalu keluar malam dan baru pulang setelah adzan subuh berkumandang, serta tindakan negatifku lainnya. Perlahan demi perlahan kamu mampu merubahnya. Aku merasa seperti terlahir kembali dengan kehidupan yang baru.

Masih teringat jelas dalam ingatanku, saat kamu menanyakan hubungan salah satu teman kita.
"Apa mereka pacaran?" begitu tanyamu.
Lalu aku jawab, "Itu urusan mereka. Kita tak perlu mengurusi urusan orang lain. Lalu, kapan kita pacaran?"
"Emang kamu udah pernah nembak aku?" tanyamu.
"Yaudah. Sekarang aku nembak kamu. Diterima, kaga?" begitu jawabku.
"Gitu doang?" protesmu.
"Mau gimana? Gue bisanya cuma gitu."
"Yaudah. Malem minggu depan aku kasih jawaban." jawabmu.

Dan aku masih ingat, dimalem sabtu minggu itu. Aku menghubungimu lewat hp bututku.
"Aku tarik lagi perkataanku malem minggu lalu. Karna itu aku ucapkan dibawah kesadaranku. Aku minta maaf untuk itu." kataku.
"Apa maksud dari semua ini? Apa kamu mau mempermainkan perasaanku?"
"Maaf. Bukannya aku ingin mempermainkan perasaanmu. Aku hanya tak ingin jika kamu menjadi terbebani atas perkataanku." jawabku.
Lalu ku dengar isak tangismu. Akupun berhenti bicara, terdiam dan membisu.
"Sekarang maunya gimana?" tanyaku memecah keheningan malam itu.
"Kita jalani aja dulu." begitu jawabmu.
Kamu tau? Setelah kejadian malam itu aku jadi sulit memejamkan mata. Aku selalu berfikir, bagaimana caranya melepasmu, namun tanpa harus melukai perasaanmu. Dan sungguh, itu membuatku sangat amat pusing.

Aku mengira, semua itu tak akan bertahan lama. Bahkan aku yakin akan hal itu. Hal dimana kamu akan meninggalkanku. Bahkan dulu aku sering berkata begitu kepadamu. Namun aku salah. Kamu mampu menyanggah apa yang ada diotakku. Bahkan seiring berjalannya waktu, kamu telah berhasil membuatku jatuh kedalam pelukmu. Aku tau, apa yang kita jalani ini gak sesimpel perkataanku waktu mengajakmu pacaran. Dalam keadaan yang serba membingungkan ini, kamu tetap mampu bertahan. Tak pernah sedetikpun kamu menyerah untuk tetap membawaku selalu berada disisimu. Kegigihanmu untuk tetap mempertahanku dari setiap sakit yang aku berikan. Kamu tetap teguh berdiri disampingku, meski ribuan luka telah aku torehkan kepadamu. Kamu tetap mampu bertahan. Terimakasih untuk itu.

Telah banyak waktu yang kita lalui bersama, bergandengan tangan dalam keadaan yang membingungkan. Suka, duka telah kita bagi bersama. Meskipun kita belum bisa menyatukan dari banyaknya perbedaan yang ada. Tapi kita masih bisa bersama hingga saat ini. Aku belum mampu melengkapi segala kekuranganmu. Bahkan aku selalu membahas segala kekuranganmu. Yang aku tau, itu hanya semakin membuatmu tersudut dalam relung hatimu dengan segala kesakitannya. Namun sekali lagi kamu tetap berdiri kokoh. Kamu tunjukkan kepadaku tentang arti ketulusan. Kamu memperlihatkan kepadaku tentang arti cintamu yang sesungguhnya kepadaku. Kamu selalu menganggap segala kekuranganku tetap indah dimatamu. Dan sekali lagi, kamu membuatku jatuh semakin jauh dalam pelukmu.

Suatu saat nanti, mungkin aku bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dimatamu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa menghadirkan kebahagian untukmu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa menyanjungmu dengan segala kekuranganmu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa membuktikan kepada orang tuamu, bahwa aku benar-benar yang terbaik untukmu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan mampu meyakinkan kedua orang tuamu, bahwa tak perlu ragu ataupun khawatir, menitipkanmu kepadaku. Do'a kan aku akan hal itu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan kembali mengucapkan kata yang dulu sempat aku tarik kembali. Namun saat nanti aku mengucapkan kalimat itu, bukan lagi tanpa kesadaran. Tapi dengan kesadaraan yang seutuhnya. "Aku sekarang melamar kamu. Kapan kamu siap menikah denganku?" suatu saat nanti, aku akan mengucapkan kata tersebut dengan segala kesadaranku. Buat kamu, terimakasih atas segala cinta dan kasih sayangmu untukku. Segala perjuangan dan pengorbananmu untukku. Maafkan segala sikapku yang sering menyakitimu. Ajari aku untuk mencintaimu. Karna aku tak tau, bagaimana caranya menunjukkan segala rasa cintaku untukmu.

Seribu puisi miliknya Bip menemaniku mengakhiri tulisan ini. Terbesit tanya dalam hatiku, "Mampukah kita bertahan dan keluar dari keadaan ini, untuk menyongsong hari-hari indah bersama?"

Senin, 06 Juni 2016

Puasa hari pertama

Alhamdulilah! Bulan suci Ramadhan telah tiba. Kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. Betapa kita nanti-nantikan kehadirannya. Dan tentunya, kita sambut dengan berbahagia kedatangannya. Dan dibulan yang penuh berkah ini, gue ingin minta maaf apabila dalam tulisan gue ada kata-kata yang kaga pantes, dan lainnya. Dan kalian semua gue maafin!

Puasa pertama! Alhamdulilah. Gue bangun kesiangan dengan sangat amat sukses. Biasanya, dihari pertama sahur seperti ini, emak gue pagi-pagi udah telpon gue buat ngebangunin sahur. Adek gue juga. Tapi pagi ini kaga ada yang bangunin gue. Ahh,.. mungkin uang jatah kiriman bulanan kurang, jadi gue kaga dibangunin. *piss mah* Alhasil gue bangun jam 4:15. Gue bbm gebetan gue, gue tanya udah imsak belom? Doi jawab belum, 15 menit lagi. Dengan waktu yang hanya tersisa lima belas menit, sudah pasti kaga memungkinkan lagi buat gue makan sahur. Karna gue masih harus keluar untuk membeli nasi. Masak mie, pun, gue rasa kaga cukup dengan waktu segitu. Akhirnya gue hanya berbuka dengan sebatang rokok dan 5 gelas air putih. Gue rasa cukup sebagai menu sahur pagi ini.

Meski puasa tahun-tahun sebelumnya waktu sahur gue berbeda, tapi tahun ini gue belajar untuk menyamakan dengan yang lain. Tahun-tahun sebelumnya waktu sahur gue +5 jam dari waktu imsak untuk wilayah paha dan dada  Indonesia bagian barat. Setelah sholat subuh, gue sempetin untuk ngaji sejenak. Udah lama banget gue kaga ngaji. Bahkan gue nyaris lupa dengan huruf alif.

Dihari puasa pertama ini, rasanya sangat malas untuk melakukan aktifitas. Mata terasa digantung beban berat. Bawaannya mau tidur aja. Bahkan bbm sama do'i, pun, sambil tertidur-tidur. Jam enam lebih lima belas menit, do'i pamit mau mandi. Gue kira mau ngajakin gue mandi sama dia. Do'i suruh gue mandi sendiri aja. Udah gede! Tapi gue kaga langsung pergi kekamar mandi. Rasanya gue masih males beranjak dari busa inoac lusuh kesayangan gue. Dan ini terus berlanjut hingga jam 6:50. Dengan tergesa-gesa gue berangkat ketempat kerja. Dan tanpa mandi tentunya. Masa bodo! Yang penting kaga batalin puasa.

Dari semalem gue udah kelaperan. Jam dua belas malem gue keluar buat mangkal cari makan. Niatnya sekalian makan sahur. Biar kalo bangunnya kesiangan dan kaga sempet makan sahur kaga lemes-lemes banget. Tapi sialnya, kaga ada lagi tenda makanan yang buka. Padahal biasanya hingga hampir subuh mereka buka. Inikan kampret! Kaga tau apa, ada orang ganteng yang sedang kelaperan. Untuk kata yang ditulis tebal-miring boleh diabaikan.

Ditempat kerja rasanya lemes banget. Untung lagi kaga banyak kerjaan. Jam istirahat biasanya gue balik. Tapi hari ini kaga. Gue tidur ditempat istirahat yang disediakan perusahaan dimana gue kerja. Bangun tidur gue ikut sholat berjamaah bareng temen-temen. Pas udah selesai sholat, hujan rintik-rintik menyapa bumi. Tiba-tiba salah satu temen gue nyeletuk, "gara-gara lu sholat, nih. Langsung ujan."
Gue jawab aja, "Berarti sholat gue membawa berkah!"

Sepulang kerja, badan rasanya lemes banget. Gue balik nebeng temen gue. Dia mampir dulu kewarung. Beli 2 kaleng ponari soksuit dan sebotol sirup. Gue heran, jam tiga sore beli ponari soksuit dan sirup. Gue jadi curiga, jangan-jangan dia mau ngajakin gue batal puasa. Kan gue mau banget. Ehh,.. Dari pada penasaran, akhirnya gue tanya, "Lu beli gituan buat apaan?"
"Buat buka." jawab dia singkat.
"Magrib masih jauh, bro. Masih di Belanda. Itu juga tau lewat sini, tau kaga!"
"Udah. Kaga usah banyak bacot. Pegang, nih!" jawabnya seraya memberikan bungkusan plastik tersebut. Setelah sampai kost gue, gue kasih bungkusan tersebut. Tapi dia bilang, "Buat lu itu. Buat buka."
Ohh,.. Baik sekali kau, teman. Tau hidup gue sebatang kara disini.

Begitu gue masuk kost, langsung gue rebahin tubuh gue ke busa inoac kesayangan. Males sekali rasanya menggerakkan badan. Gue telpon seseorang sekedar untuk menemaninya bekerja. Setelah selesai, gue play musik diplay list hp gue. Kaga kerasa gue ketiduran. Bahkan gue melewatkan adzan magrib yang gue nanti-nanti sedari pagi. Untung ada tetangga kost gue yang sebelum berangkat kerja menyempatkan gedor-gedor pintu kost gue buat ngingetin buka. Makasih banget, sob.

Setelah mata terjaga, langsung gue samber secepat bekicot bungkusan yang diberikan temen gue tadi. Gue buka sebotol minuman pengganti ion tubuh biar kaga dehidrasi. Lalu gue nyalakan sebatang rokok. Karna gue kaga biasa buka langsung makan nasi, akhirnya gue keluar. Niatnya sih cari gorengan buat cemilan. Tapi apes! Semua yang jual gorengan abis ludes tak tersisa. Akhirnya dengan terpaksa, gue singgah juga kewarung nasi. Niatnya mau makan. Sakit perut, sakit perut dah, buka langsung makan nasi. Tapi sepertinya sang dewi fortuna enggan bersama gue. Satu-satunya warung nasi yang buka, ternyata kehabisan nasi. Inikan kampret! Dengan perasaan dongkol, gue balik lagi ke kost. Untung aja masih ada sisa mie dari warteg langganan gue yang katanya buat THR. Karena beliau mau tutup selama bulan puasa. Ini sih namanya THR prematur. Dan gue makan mie tersebut. Tapi kaga gue masak. Gue ancurin.

Puasa pertama hari ini sungguh greget buat gue. Udah bangun sahur kesiangan, sehingga gue kaga sempet makan sahur. Buka puasa, pun, bangunnya kemaleman, sehingga gue kaga kebagian makanan dari para pedagang pinggir jalan. Greget, bukan?