Dua hari libur kerja. Kesempatan yang baik untuk mengistirahatkan raga. Yang selalu dipaksa untuk bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan yang lainnya.
Sinar mentari keemasan yang siap kembali keperaduan. Berhiaskan awan yang berarak. Langit biru yang tak ubahnya seperti hamparan lautan luas. Disuatu senja. Disebuah pinggiran kota. Dimana kulabuhkan jangkar harapan disana. Akan sebuah mimpi, cita, dan cinta. Menggantung bersama birunya langit kala senja.
Senja ini, senja dihari Natal. Ditanggal merah kedua dikalender minggu ini. Aku menikmatinya dari halaman depan kost ku. Ditemani balada rock yang menggema, beserta sebatang rokok yang terselip diantara jari tengah dan jari telunjukku. Kuhisap perlahan, lalu kehempaskan. Menghasilkan awan-awan yang mengandung nikotin, mengudara, terbang ke angkasa senja.
Senja ini, tepat dihari Natal. Dihari liburku yang kedua. Seolah tak ada yang istimewa. Nyinyiran "manusia-manusia cerdas" didunia maya masih saja menggema. Seakan tak ada habisnya. Menganggap dirinyalah yang paling benar, yang layak jadi panutan. Tentang sebuah pandangan, tentang sebuah perbedaan.
"Ahh,.. Mungkin mereka tidak mengerti akan indahnya perbedaan." ucapku lirih. Yang langsung tersapu angin senja, mengudara bersama kepulan asap rokok dan melodi musik rock yang menggema.
Masih di senja ini, dihari yang penuh kedamaian. Sudahkah kita benar-benar merasakan damai? Tak diduga, tak dinyana, pertanyaan tersebut mencuat bersama ribuan pertanyaan lainnya. Dan tak mampu ku menjawabnya.
"Hmm,.. Kedamaian hadir dari setiap diri manusia. Dengan kesadaran kita sebagai manusia, yang tak ingin saling menyakiti, satu dan lainnya, maka damai akan tercipta." dan lagi, kuhanya mampu berucap lirih. Yang sesaat saja telah hilang bersama kepulan asap rokok dan irama musik rock yang masih menggema.
Hari ini, dikala senja. Kegundahan semakin meraja. Terlahir dari kepingan-kepingan kenyataan yang ada. Tentang realita, tentang cinta, dan tentang cita yang semua seolah sirna. Kita dibutakan akan realita, yang sesungguhnya, perbedaan adalah hal yang istimewa. Kita dibutakan akan arti makna dari sebuah cinta. Yang seharusnya dapat saling menjaga, satu dan yang lainnya. Namun kenyataannya kita saling mencaci-maki, menghujat, dan saling benci. Karena kesalahan penafsiran kita akan makna sebuah cinta. Cinta terhadap Ras, Suku, Budaya, Agama, dan lainnya. Yang membawa kita semakin jauh kedalam jurang perpecahan.
Masih disatu senja. Angin menari, membelai rambutku. Membawa pergi kepulan asap dari sebatang rokok yang aku hisap. Bersama syair keras, dari musik cadas. Sekali lagi terbersit sebuah pertanyaan. "Mungkinkah damai akan tercipta?"
Jumat, 25 Desember 2015
Selasa, 08 Desember 2015
Kontrakan Amburadul
Entah kenapa, gue tuh males banget buat beres-beres kost. Setiap ada temen gue yang main, mereka selalu bilang, "Kost lu udah kayak kapal pecah." Dan sekarang gue jadi tau kalau kondisi kapal pecah seperti apa. Ada juga yang bilang, "Ini kamar atau tempat penimbunan sampah?!"
Gue akui, kemalesan gue itu udah level dewa. Tapi percayalah, gue kaga pernah males berjuang untuk mendapatkanmu. Iya, kamu! Yang makan mie ayam kaga pake sendok, garpu atau sumpit. Tapi langsung pake tangan.
Kamar kost gue itu berhiaskan sarang Spiderman, botol minuman, dan selalu ada pakaian kotor yang menggantung. Setiap kali liat timbunan pakaian kotor, rasanya pengen buru-buru nikah, biar ada yang nyuciin. Ehh,.. Itu cari istri atau cari pembantu? Tapi percayalah, meskipun pakaian kotor gue menumpuk, tapi soal sempak, gue cuci tiap hari.
Sekalipun gue males, tapi gue selalu mandi setiap pagi. Dan mandi 2 kali sehari. Kecuali hari minggu. Dan gue juga masih rajin gosok gigi. Tapi gue gosok gigi bukan pake sikat gigi. Tapi pake sikat wc. Kurang greget gimana, coba, gue?
Selain kost gue yang amburadul, hati gue juga amburadul. Entah kenapa, gue demen banget mencintai cewek orang ataupun istri orang. Buat gue itu adalah hal yang normal. Karena kalo gue suka sama pacar binatang ataupun cowok orang, itu berarti gue kaga normal. Perawan boleh menawan. Janda memang menggoda. Tapi percayalah, cewek orang ataupun istri orang itu lebih menantang.
Udah, ah. Segitu aja. Takut pada muntah kalo baca tulisan gue terlalu panjang. Terimakasih buat sohib gue, Yusup. Yang udah kasih judul buat gue jadiin tulisan. Sesuai dengan namanya, Yusup. Dia adalah pria yang tampan.
Gue akui, kemalesan gue itu udah level dewa. Tapi percayalah, gue kaga pernah males berjuang untuk mendapatkanmu. Iya, kamu! Yang makan mie ayam kaga pake sendok, garpu atau sumpit. Tapi langsung pake tangan.
Kamar kost gue itu berhiaskan sarang Spiderman, botol minuman, dan selalu ada pakaian kotor yang menggantung. Setiap kali liat timbunan pakaian kotor, rasanya pengen buru-buru nikah, biar ada yang nyuciin. Ehh,.. Itu cari istri atau cari pembantu? Tapi percayalah, meskipun pakaian kotor gue menumpuk, tapi soal sempak, gue cuci tiap hari.
Sekalipun gue males, tapi gue selalu mandi setiap pagi. Dan mandi 2 kali sehari. Kecuali hari minggu. Dan gue juga masih rajin gosok gigi. Tapi gue gosok gigi bukan pake sikat gigi. Tapi pake sikat wc. Kurang greget gimana, coba, gue?
Selain kost gue yang amburadul, hati gue juga amburadul. Entah kenapa, gue demen banget mencintai cewek orang ataupun istri orang. Buat gue itu adalah hal yang normal. Karena kalo gue suka sama pacar binatang ataupun cowok orang, itu berarti gue kaga normal. Perawan boleh menawan. Janda memang menggoda. Tapi percayalah, cewek orang ataupun istri orang itu lebih menantang.
Udah, ah. Segitu aja. Takut pada muntah kalo baca tulisan gue terlalu panjang. Terimakasih buat sohib gue, Yusup. Yang udah kasih judul buat gue jadiin tulisan. Sesuai dengan namanya, Yusup. Dia adalah pria yang tampan.
Langganan:
Postingan (Atom)
