Cerita Liburan bag.1
Namaku Muhammad Fikri,teman-temanku memanggilku Fikri.Aku terlahir disebuah desa kecil,dimana desa tempat tinggalku dipisahkan oleh sungai dengan desa-desa lainnya.Aku anak semata wayang dari tiga bersaudara.Eh salah,maksudku aku anak pertama dari tiga bersaudara.Kedua adikku semuanya perempuan,Siti dan Sita panggilannya.Mayoritas penduduk didesaku berprofesi sebagai petani,termasuk ayahku.Namun ada juga yang berprofesi sebagai pencari ikan disungai dan juga pedagang.Menjadi petani didesaku itu bisa dikatakan sulit,karena apabila musim hujan tiba,biasanya sungai akan meluap dan membanjiri area persawahan.Sehingga dimusim hujan para petani selalu mengalamai gagal panen.Bukan hanya petani saja,tetapi para penangkap ikan pun akan sulit disaat musim hujan telah tiba,dan imbasnya akan mempengaruhi para pedagang.Maka dari itu,tingkat perekonomian didesaku bisa dikatakan cukup rendah.Musim hujan menjadi masalah tersendiri didesa kami,seolah sudah menjadi warisan tradisi dari leluhur kami.
Aku memiliki 3 orang sahabat karib.Akmal,Iqbal dan Aidin,itulah nama-nama sahabatku.Iqbal merupakan anak tunggal yang orang tuanya berprofesi sebagai pedagang dipasar yang letaknya berada dikecamatan.Dia yang paling gemuk diantara kami.Selain badannya gemuk,dia juga yang paling pendek diantara kami.Jadi apabila main kejar-kejaran dia yang paling mudah didapat.Secara tingkat ekonomi,orang tua Iqbal paling berada diantara orang tua kami.Karena postur tubuhnya yang gemuk dan pendek,maka kami sering menjulukinya "gembul".
Yang kedua Akmal.Akmal berpostur tinggi namun memiliki badan yang kurus.Karena postur tubuhnyalah kami sering menyebutnya "kutilang" alias "tinggi,kurus dan langsing.Orang tuanya berprofesi sebagai petani,sama sepertiku.Dan yang terakhir adalah Aidin.Dia memiliki tubuh yang kecil dan juga pendek.Namun agak lebih tinggi sedikit dari Iqbal.Dan dia mendapatkan julikan "kurcaci" dari kami semua.Orang tuanya berprofesi sebagai pencari ikan.Aku sendiri mempunyai postur yang tinggi,namun sedikit pendek dari Akmal.Namun tidak seperti Akmal yang kurus,justru badanku lebih berisi jika dibandingkan Akmal ataupun Aidin.Karena posturku juga teman-temanku menjulukiku "abri".Mungkin karena posturku sangat ideal untuk menjadi seorang abri jika aku besar kelak.Kami semua mempunyai cita-cita yang sama,yaitu ingin mengembangkan desa kami agar bisa meningkatkan taraf hidup warga disini.Tapi rasanya itu masih terlalu jauh.Usiaku saat ini baru 10 tahun,dan aku duduk dibangku sekolah dasar.Begitupun dengan ketiga sahabat karibku.
Hari ini adalah hari pertama kami masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas kemarin.Saat ini aku duduk dikelas 4 sekolah dasar.Sekolahku berada didesa tetangga yang berada diseberang sungai.Didesa kami memang belum ada sekolah.Karena sekolah kami berada didesa seberang sungai,maka untuk mencapai sekolah kami harus menyeberangi sungai dengan menggunakan perahu.Untuk mengantisipasi seragam dan buku agar tidak basah,biasanya kami berangkat tidak menggunakan seragam,melainkan dengan pakaian biasa.Seragam dan buku pelajaran kami bungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum kami masukkan kedalam tas.Tidak adanya jembatan penghubung membuat warga desa kami kesulitan untuk mencapai desa-desa tetangga yang semuanya berada diseberang sungai.Bisa dibayangkan betapa sulitnya jika musim hujan telah datang.Arus sungai menjadi lebih deras,dan kami harus menyeberangi sungai untuk pergi kesekolah.Terlebih lagi jika air sungai meluap,kami harus berjalan sangat hati-hati disekitar aliran sungai agar tidak terpeleset dan terbawa arus sungai yang deras.Sudah banyak warga desa kami yang menjadi korban.Namun hingga saat ini pemerintah belum juga membangun jembatan yang menghubungkan desa kami dengan desa-desa diseberang sungai.Padahal sudah sering para perangkat desa kami mengajukan proposal untuk pembangunan jembatan,namun hingga kini jembatan yang kami impikan belum juga terealisir.Maka tak heran jika musim hujan banyak anak-anak desa kami yang tidak pergi kesekolah dengan alasan takut jatuh dan terseret arus sungai yang deras,dan orang tua merekapun mengizinkan anak-anaknya tidak pergi kesekolah dimusim hujan.Bahkan banyak orang tua yang justru melarang anak-anaknya untuk pergi kesekolah dimusim hujan.Sungguh ironis nasib anak-anak desa kami dalam hal mendapatkan pendidikan.
WAKWAW...
(BERSAMBUNG).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar