Beberapa hari lalu, salah satu temen SMA gue, minta WA gue buat dimasukkin ke grup Alumni SMA. Berhubung gue lagi jenuh dengan beberapa sosmed yang belakangan ini hanya di isi saling nyinyir antara dua kubu yang kaga lepas dari dunia politik. Hari itu juga, gue langsung download aplikasi WA.
Ternyata gabung di grup Alumni ini cukup seru. Seakan bahan obrolan kaga ada habisnya untuk dibicarain. Mulai dari gue yang selalu jadi korban bully karna status jomblo yang udah lebih dari seperempat abad, kenangan-kenangan semasa sekolah, dan tak lupa pula berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing anggota saat ini. Meski tak dapat langsung bertatap muka, paling tidak ini cukup mengobati rindu yang telah lama tak bertemu. Bahkan, yang dulu disekolah acuh tak acuh, ataupun sama sekali tak pernah saling tegur sapa, namun di grup ini, kita semua seolah adalah sahabat, yang bisa membicarakan apapun tanpa saling mencaci. Meski lontaran ejekan-ejekan selalu mengiringi. Tapi itu semua hanya sebagai lelucon untuk berbagi canda tawa, tanpa ada maksud merendahkan ataupun menghina. Dan tanpa diminta, kitapun sudah bisa saling mengerti dan memaafkan.
Dari sana gue ngerasa, bahwa dalam kehidupan saat ini, kita tidak bisa terlepas dari "internet". Internet memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari kita. Beragam kegiatan berbasis internet telah berjalan saat ini. Mulai dari jualan
Namun terlepas dari itu, internet juga menjadi momok yang sangat menyeramkan apabila kita tidak bisa berhati-hati dan memanfaatkannya dengan maksimal, maka yang akan kita dapatkan hanyalah hal-hal yang bersifat negatif. Untuk itu kita perlu saling mengingatkan, bahwa internet diciptakan untuk memberikan kemudahan-kemudahan untuk kita, jadi jangan sampai disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif.
Beberapa hari ini, warga Net-atau biasa disebut Netizen, sedang galau gegara " Telegram" diblokir oleh pemerintah. Hal ini tentu menyebabkan pro dan kontra diantara para Netizen. Alasan pemblokiran tersebut "katanya" dikarenakan "Telegram" menjadi alat berbagi informasi antar teroris. Jika memang demikian, itu sama saja seperti hendak membunuh seekor nyamuk didalam rumah namun dengan cara membakar rumah tersebut. Dan jelas saja, inipun langsung menjadi bahan nyinyiran Netizen terhadap Pemerintah. Bahkan hingga #BlokirJokowi sempat viral dan menjadi trending topic di Indonesia.
Gue terkadang heran, banyak diantara kita yang langsung merespon dari suatu kejadian tanpa mencari tau detilnya. Begitu diumumkan oleh Kemenkominfo tentang pemblokiran Telegram, langsung aja dinyinyirin. Yang dibilang Pemerintah membatasi kebebasan berbicara, lah, dan lain-lainnya. Padahal, jika kita berfikir secara sehat, tentunya kita yakin, bahwa setiap kebijakan ataupun keputusan yang diambil pemerintah, itu sudah melalui banyak prosedur. Sebelumnya gue tekankan, gue bukan satu dari salah satu kubu yang saat ini gemar sekali saling lapor melaporkan. Karna gue adalah orang yang buta akan dunia politik. La wong kuli koq arep membahas politik,...
Namun rasanya masalah Telegram sudah selesai. Karna pihaknya telah merespon pemblokiran yang dilakukan pemerintah. Pihak Telegram pun meminta maaf atas kelambanan merespon complain pemerintah dan berjanji akan lebih mempersempit lagi ruang gerak teroris dalam menggunakan aplikasi Telegram.
Dan diminggu ini, ada satu video yang membikin geram warga Net, yaitu Mahasiswa (maaf) Autis disalah satu Universitas Ibukota yang sedang dibully oleh temannya sesama mahasiswa, hingga sang mahasiswa yang dibully melemparkan tong sampah kepada para pembully agar berhenti membully nya. Mungkin tuh orang otaknya udah pindah di pantat kali, ya?
Sebagai orang yang terlahir sempurna (secara kasat mata), tidak sepantasnya kita mengejek, menghina ataupun mempermainkan orang lain lantaran dia memiliki kekurangan. Karna di dunia ini kaga ada satupun manusia yang bener-bener sempurna. Dibalik kesempurnaan "yang kita rasa", tentunya tetap ada kekurangan meskipun jarang yang dapat melihat kekurangan diri kita masing-masing, termasuk gue. Contoh, dari kejadian video yang gue maksud diatas, sudah jelas mahasiswa yang di bully tadi memiliki kekurangan. Tapi dia kaga menyerah untuk menggapai cita-citanya. Dan para pembullynya jelas sekali bahwa dia orang yang sehat. Tapi dari tanyangan video tersebut kita tahu bahwa diapun memiliki kekurangan, kekurangan otak! Otak malah kaga punya otak sama sekali.
Jarang sekali ada anak autis yang mau bersosialisasi lantaran dia kaga percaya diri dengan kondisinya. Saat ada yang masih mau untuk belajar demi menggapai cita-citanya, apa susahnya untuk tidak mengganggunya? Andaikan tidak ingin berteman dengannya sekalipun, ya itu urusan lu. Itu hak lu! Tapi mereka juga punya hak untuk tidak diganggu lantaran kondisi mereka. Kaga ada gaes yang mau dilahirkan (maaf) cacat.
Satu lagi video yang bikin Netizen berang bak kebakaran jenggot. Masih dari Ibukota. Disalah satu mall yang ada disana. Kali ini sih kabar-kabarnya masalah senioritas. Dimana anak-anak SMP melakukan kekerasan fisik terhadap temennya. Dalam video tersebut, seorang siswi hanya diam saat ditampar, jambak, dan hal-hal yang menyakitkan lainnya oleh salah satu siswi (mungkin dia kepala genk cewek disekolahnya). Bahkan ada juga cowok yang ikut-ikutan mukul. Itu anak SMP loh gaes,... Tapi kelakuan udah seperti Yakuza.
Kenapa hal tersebut dapat terjadi? Mungkin itu semua karna kurangnya komunikasi dengan ortu mereka lantaran ortu sibuk bekerja. Karna kita tahu, biaya hidup di Ibukota itu mahal. Dan tentunya juga pengaruh buruk dari penyalahgunaan internet. Karna video serupa pun sudah seringkali beredar di media. Dan di usia-usia itulah anak-anak menjadi peniru. Jadi buat para orangtua, jadikanlah anak-anak anda sebagai teman anda agar terjalin komunikasi yang baik. Jangan sampai anak-anak kita lebih mengikuti omongan dan ajakan temannya daripada orang tua nya. Karna biasa sang teman selalu merayu, sedangkan orang tua seringkali berbicara kepada sang anak sambil bawa-bawa palu.
Gue rasa udah panjang banget nih tulisan gue. Tapi pastinya kaga sepanjang massa jomblo gue. Buat kalian yang membaca tulisan gue ini dari awal hingga akhir, gue rasa kalian perlu ke Dokter. Gue yang nulisnya aja bosen, gimana bisa kalian kaga bosen baca ini hingga akhir. Mohon maaf kalo ada salah-salah kata. Sekian dan terima sumbangan (diutamakan sumbangan dalam bentuk mempelai wanita). Ya Allah,.. Koq ngenes amat ya hidup gue.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar