Semuanya berawal dari kegelapan. Dalam kepekatannya, rasanya sangat nyaman untuk merenungkan diri, berbicara kepada hati. Entah sejak kapan aku menyukai kegelapan. Mungkin karna aku tak perlu mencari kegelapan. Kegalapan selalu menyelimutiku, mengalir dalam darah dan nafasku, merasuki otak ku, sebagai tubuh dari bayanganku.
Kegelapan telah menjelma menjadi hari-hariku. Kehidupanku. Bahkan aku sulit membedakan siang dan malam. Hanya mentari yang meyakinkan aku akan siang hari. Selain itu, semua yang kurasakan hanya gelap.
Banyak ide, ataupun rencana-rencana yang terlahir dalam gelap. Seolah semuanya mengalir dengan lancar dalam kepekatannya. Tanpa aku harus berfikir dengan keras, aku mampu membuat tulisan yang begitu panjang. Atau merencanakan sebuah rencana besar. Dalam kegelapan, seolah aku bisa menyerap seluruh energi alam. Menyatukannya dengan diriku, dan menjadikannya kekuatan.
Dalam kegelapan, aku bisa merasakan rindu yang begitu hebat akan sentuhan dirimu. Dalam kegelapan juga, aku bisa merasakan langkahmu yang telah beranjak pergi. Dalam kegelapan, aku bisa merasakan bahwa kau tetaplah milikku, meski hanya dalam mimpi. Dalam kegelapan, aku juga bisa menyadarkan diri, bahwa langkah kita tak lagi senada. Karna irama langkah kita saling berlawanan arah, menjauh pergi, saling meninggalkan. Dalam kegelapan, aku mampu menjamah wajahmu. Dalam kegelapan, aku mampu melihat keindahanmu.
Dalam kegelapan, aku mampu merasakan cintamu. Dalam kegelapan, aku mampu merasakan sedihmu. Dalam kegelapan, ku ingin menghapus bebanmu. Dalam kegelapan, aku mampu merasakan bahagiamu, meski bahagia itu tercipta bukan karna diriku. Dalam kegelapan, aku memeluk bayangmu. Dalam kegelapan, ku kecup bibirmu. Dalam kegelapan, aku berdoa dengan tulus, semoga kau bahagia. Dalam kegelapan, kusampaikan maafku.
Kita pernah menghabiskan waktu bersama. Berbagi canda dan tawa, duka dan kecewa. Kita telah melalui banyak hari. Kita pernah merajut impian. Kita juga pernah terbuai oleh harapan. Kita pernah saling berpegang tangan, saling berjanji, saling melindungi. Kita pernah terjatuh bersama, terluka bersama, dan mengobatinya bersama-sama. Kita telah melalui hari-hari yang gelap. Dan kini, kita telah mengakhiri semuanya dengan kegelapan.
Kegelapan adalah jiwaku. Yang bersemayam pada ragaku, memungut sukma ku, dan menjadikannya diriku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar