Kamu adalah salah satu wanita terhebat dalam hidupku. Hadirmu mampu membuat hari-hariku lebih berarti. Kamu merubah sisi liarku. Kamu mampu merubah gaya hidupku. Hidupku yang awalnya gak jelas. Selalu keluar malam dan baru pulang setelah adzan subuh berkumandang, serta tindakan negatifku lainnya. Perlahan demi perlahan kamu mampu merubahnya. Aku merasa seperti terlahir kembali dengan kehidupan yang baru.
Masih teringat jelas dalam ingatanku, saat kamu menanyakan hubungan salah satu teman kita.
"Apa mereka pacaran?" begitu tanyamu.
Lalu aku jawab, "Itu urusan mereka. Kita tak perlu mengurusi urusan orang lain. Lalu, kapan kita pacaran?"
"Emang kamu udah pernah nembak aku?" tanyamu.
"Yaudah. Sekarang aku nembak kamu. Diterima, kaga?" begitu jawabku.
"Gitu doang?" protesmu.
"Mau gimana? Gue bisanya cuma gitu."
"Yaudah. Malem minggu depan aku kasih jawaban." jawabmu.
Dan aku masih ingat, dimalem sabtu minggu itu. Aku menghubungimu lewat hp bututku.
"Aku tarik lagi perkataanku malem minggu lalu. Karna itu aku ucapkan dibawah kesadaranku. Aku minta maaf untuk itu." kataku.
"Apa maksud dari semua ini? Apa kamu mau mempermainkan perasaanku?"
"Maaf. Bukannya aku ingin mempermainkan perasaanmu. Aku hanya tak ingin jika kamu menjadi terbebani atas perkataanku." jawabku.
Lalu ku dengar isak tangismu. Akupun berhenti bicara, terdiam dan membisu.
"Sekarang maunya gimana?" tanyaku memecah keheningan malam itu.
"Kita jalani aja dulu." begitu jawabmu.
Kamu tau? Setelah kejadian malam itu aku jadi sulit memejamkan mata. Aku selalu berfikir, bagaimana caranya melepasmu, namun tanpa harus melukai perasaanmu. Dan sungguh, itu membuatku sangat amat pusing.
Aku mengira, semua itu tak akan bertahan lama. Bahkan aku yakin akan hal itu. Hal dimana kamu akan meninggalkanku. Bahkan dulu aku sering berkata begitu kepadamu. Namun aku salah. Kamu mampu menyanggah apa yang ada diotakku. Bahkan seiring berjalannya waktu, kamu telah berhasil membuatku jatuh kedalam pelukmu. Aku tau, apa yang kita jalani ini gak sesimpel perkataanku waktu mengajakmu pacaran. Dalam keadaan yang serba membingungkan ini, kamu tetap mampu bertahan. Tak pernah sedetikpun kamu menyerah untuk tetap membawaku selalu berada disisimu. Kegigihanmu untuk tetap mempertahanku dari setiap sakit yang aku berikan. Kamu tetap teguh berdiri disampingku, meski ribuan luka telah aku torehkan kepadamu. Kamu tetap mampu bertahan. Terimakasih untuk itu.
Telah banyak waktu yang kita lalui bersama, bergandengan tangan dalam keadaan yang membingungkan. Suka, duka telah kita bagi bersama. Meskipun kita belum bisa menyatukan dari banyaknya perbedaan yang ada. Tapi kita masih bisa bersama hingga saat ini. Aku belum mampu melengkapi segala kekuranganmu. Bahkan aku selalu membahas segala kekuranganmu. Yang aku tau, itu hanya semakin membuatmu tersudut dalam relung hatimu dengan segala kesakitannya. Namun sekali lagi kamu tetap berdiri kokoh. Kamu tunjukkan kepadaku tentang arti ketulusan. Kamu memperlihatkan kepadaku tentang arti cintamu yang sesungguhnya kepadaku. Kamu selalu menganggap segala kekuranganku tetap indah dimatamu. Dan sekali lagi, kamu membuatku jatuh semakin jauh dalam pelukmu.
Suatu saat nanti, mungkin aku bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dimatamu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa menghadirkan kebahagian untukmu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa menyanjungmu dengan segala kekuranganmu. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa membuktikan kepada orang tuamu, bahwa aku benar-benar yang terbaik untukmu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan mampu meyakinkan kedua orang tuamu, bahwa tak perlu ragu ataupun khawatir, menitipkanmu kepadaku. Do'a kan aku akan hal itu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan kembali mengucapkan kata yang dulu sempat aku tarik kembali. Namun saat nanti aku mengucapkan kalimat itu, bukan lagi tanpa kesadaran. Tapi dengan kesadaraan yang seutuhnya. "Aku sekarang melamar kamu. Kapan kamu siap menikah denganku?" suatu saat nanti, aku akan mengucapkan kata tersebut dengan segala kesadaranku. Buat kamu, terimakasih atas segala cinta dan kasih sayangmu untukku. Segala perjuangan dan pengorbananmu untukku. Maafkan segala sikapku yang sering menyakitimu. Ajari aku untuk mencintaimu. Karna aku tak tau, bagaimana caranya menunjukkan segala rasa cintaku untukmu.
Seribu puisi miliknya Bip menemaniku mengakhiri tulisan ini. Terbesit tanya dalam hatiku, "Mampukah kita bertahan dan keluar dari keadaan ini, untuk menyongsong hari-hari indah bersama?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar