Rintik hujan turun saat Adzan Maghrib berkumandang. Membasahi bumi membawa kesejukan. Dalam dinginnya petang ini. Kunyalakan sebatang rokok untuk sekedar memberi kehangatan. Kuhisap dalam-dalam lalu kuhembuskan. Hujan rintik-rintik masih terus berjatuhan. Disebuah pinggiran ibukota. Dimana kulabuhkan jangkar harapan disana. Entah itu tentang asa, cita, ataupun cinta.
Dalam kesendirian, tiba-tiba aku terhenyak oleh sebuah pertanyaan yang datang menyeruak singgah dikepala. Adilkah hidup ini?
Dalam sebuah perjalanan kehidupan, tentunya ada banyak hal menyakitkan yang silih berganti menghampiri. Karena dunia adalah pusat dari segala pesakitan. Banyak hal menyakitkan yang ada di dunia ini. Entah itu soal asa, cita ataupun cinta. Bahkan tak jarang, kita merasa bahwa hidup ini tidak adil. Namun apakah memang demikian? Atau hanya saja kita yang tidak dapat melihat keadilan dari sebuah perjalanan hidup? Think again!
Sayup-sayup Adzan maghrib masih terdengar, rintik hujanpun masih terus berdatangan. Kuhisap kembali sebatang rokok dalam-dalam, lalu kuhembuskan.
Hmm,.. Mungkin kita yang terlalu banyak menuntut. Dan berharap semua tuntutan tersebut terwujud. Terkadang kita memang serakah. Namun kita tak menyadarinya.
Masih dipetang ini. Dengan segala kejenuhan yang ada. Dimana kejenuhan mulai terasa menjadi beban. Keletihan terasa telah berdiri dititik puncak tertingginya. Terasa melangkahkan kaki tak tentu arah. Tanpa tujuan! Disaat-saat seperti ini, aku ingin melaluinya sendiri, tanpa siapapun. Ingin kurengkuh dalam kesendirian. Bercumbu dengan segala rasa sakit. Merasakannya detik demi detik. Hingga akhirnya, aku mampu menikmati setiap detik kesakitannya.
Dengan kesombongannya, dunia memaksa kita untuk berpacu melawan waktu. Dengan keangkuhannya, dunia memaksa kita untuk terus bertahan. Dunia memang kejam, kawan! Jadi kita harus memiliki semangat yang lebih kejam untuk mampu melawan. Untuk mampu meredam.
Masih dipetang ini. Adzan maghrib tak lagi terdengar. Namun rintik hujan masih terus berdatangan. Kembali kuhisap rokok yang terselip dijari-jemariku dalam-dalam. Lalu kuhembuskan. Tampak gumpalan awan putih berhamburan. Terbang semakin tinggi, tinggi, dan tinggi, lalu menghilang. Terbang jauh bersama segala kekacauan. Kunikmati sepiring mie instan goreng yang mulai mengembang. Yang sengaja kusajikan sebagai menu santap berbuka puasa petang ini. Selamat malam, kawan! Senang melihat semangat kalian masih terus terbakar!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar