Hujan rintik-rintik sedari sore tak kunjung reda. Menghanyutkan penghuni bumi dalam alam impian. Namun tidak baginya. Seorang pemuda yang terduduk disebuah emperan toko. Dihembuskannya asap rokok yang terselip dijari-jemarinya. Dia terduduk seorang diri disana. Dalam hidupnya, dia telah terbiasa dalam kesendirian. Bahkan, dia telah berteman akrab dengan yang namanya kesepian. Hanya rokok dan alkohol yang selalu setia menemaninya. Dan dinginnya malam yang sedang dikunjungi hujan, menambah dingin hatinya.
Satria. Satria tri sakti. Begitulah orang mengenalnya. Sang pembuat onar, yang tak mengenal ibu-bapaknya. Jalananlah yang telah membesarkan dan mendidiknya. Dia termenung. Dipandanginya rintik hujan dari tempatnya yang tak ia tinggalkan sedari tadi. Dihisapnya alkohol dari bungkus plastik dengan sebuah sedotan. Minuman murahan. Karena dia tak sanggup membeli minuman mahal. Dia hembuskan sekali lagi asap rokok sembari berbisik lirih, "Sampai kapan akan tetap seperti ini? Sampai kapan semuanya berubah? Akupun sama, seperti manusia lainnya. Yang berharap memiliki asa, cita dan cinta."
Hujan tak kunjung reda. Bahkan langit menumpahkan airnya semakin deras. Dia masih disana. Dan tetap seorang diri. Bertemankan gelapnya malam dan dinginnya hujan. Hanya rokok dan alkohol yang mampu menghangatkan hatinya yang kesepian. Batang demi batang rokok telah dihisapnya.
Dulu dia sempat mengenal cinta. Bahkan dia berbahagia karenanya. Cinta kepada seorang pelacur jalanan, yang juga tulus mencintainya. Namun sepertinya sang dewi fortuna tidak memihak kepadanya. Sang gadis pujaan hatinya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Penyakit aids telah merenggut nyawa gadisnya. Kinipun dia telah terjangkit penyakit yang sama. Dan hidupnya kini hanya menantikan malaikat maut datang menjemputnya.
Saat dia hendak menyalakan lagi sebatang rokok, namun telah habis tak tersisa. Kemudian ia hisap minumannya. Namun sekali lagi dia harus kecewa. Karena bungkusan dalam plastik yang dia pegang sedari tadi telah kosong pula. Dengan kesal dia lemparkan bungkusan plastik tersebut. Dengan langkah sempoyongan akibat pengaruh alkohol, dia berjalan menuju sebuah warung pinggir jalan. Dikeluarkannya sebuah pisau dari balik bajunya. Dia arahkan keperut pedagang sambil berkata, "Berikan gue rokok!" Namun naas. Sepertinya sang dewi fortuna benar-benar enggan memeluknya. Orang-orang yang sedang minum kopi diwarung tersebut melihat aksinya, menghampirinya dan memukulinya. Pukulan dan tendangan singgah ketubuhnya hingga ia terkapar. Wajahnya berlumuran darah, tubuhnya lunglai, pandangannya menjadi buram. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, ia bangkit dan melangkah pergi. Ditengah kesakitan dalam setiap langkahnya, sesosok gadis mengahampirinya. Sang gadis pujaan hatinya. Dengan penuh kasih sayang, dibersihkannya noda darah yang memenuhi wajahnya dengan sebuah senyuman manis. Setelah wajahnya bersih, sang gadis mengecup bibirnya lalu pergi meninggalkannya dalam kesendirian. Tanpa terasa, dia meneteskan air matanya. Dengan langkah lunglai, dia kembali melangkahkan kakinya sembari berbisik lirih, "Dia telah mati! Dan aku akan menjemputnya ke Neraka!"
Setelah selesai berkata, ia menghentikan langkahnya. Dihunuskannya pisau yang masih ia genggam tepat dijantungnya. Beberapa detik dia masih tetap mampu berdiri tegak. Namun detik selanjutnya, dia jatuh dengan bersimbah darah. Pandangannya perlahan demi perlahan buram. Nampak olehnya, gadis pujaan hatinya datang menghampirinya. Mengulurkan tangan dan membantunya berdiri. Lantas dia pun pergi bersama gadisnya. Bergandengan tangan. Menuju dunia barunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar