Angin berhembus membelai ranting-ranting dan dedaunan. Kicauan burung bernyanyi riang. Riak air sungai bergemericik menabrak bebatuan. Semua itu menghasilkan simfoni alam.
Nyaman. Yang selalu terasa setiap kali pulang. Bertemu teman-teman. Bermain dan tertawa riang. Meskipun jauh dari kemewahan. Namun tak akan membuatku lupa akan kampung halaman. Meskipun gue lupa, kampung gue berada dihalaman berapa?
Sambil menikmati hari. Kumelihat anak-anak berlari-lari. Tanpa baju dan alas kaki. Dan terlintas dibenakku, puluhan tahun lalu. Saat aku seusia mereka. Bermain kejar-kejaran. Hingga kaki terasa lelah. Namun selelah apapun, tak pernah membuatku mengeluh.
Emang beda ya. Semakin dewasa, manusia justru semakin sering mengeluh.
Hamparan sawah luas membentang. Bergariskan birunya langit dan putih awan. Batang padi seolah melambai-lambai genit saat dihembus mesra sang angin. Sungguh menyejukkan mata. Siapa saja yang melihatnya.
Disinilah. Ditempat ini. Disebuah desa kecil, yang jauh dari hingar-bingar kota. Aku lahir dan dibesarkan. Meski sering mati listrik. Jaringan internet super lemot. Tapi tetap saja selalu berhasil membuatku rindu.
Disanalah keluargaku, sahabat-sahabatku, dan pacar-pacarku berada.
Oke. Untuk yang terakhir hanyalah khayalan. Jadi coret aja.Pacar-pacarku.
Hembusan angin membelai mesra rambutku. Lebih mesra dari belaian mantan. #ehh
Menyibakkan rambutku. Dan menerbangkanketombe-ketombe dari kepalaku dan berjatuhan bagaikan butiran salju apa saja yang dilewatinya.
Semakin mendekati senja. Angin mulai melambat. Dedaunan tak lagi bergoyang. Burung-burung perlahan berhenti berkicau. Kambing, sapi, kebo dan ayampun mulai kembali ke kandang.Namun cabe-cabean malah keluar kandang. Dan akhirnya, langkahku membawaku pulang.
Quote : Bahagia itu sederhana. Maka dari itu, jika kalian ingin bahagia. Makanlah selalu dirumah makan "sederhana".
Nyaman. Yang selalu terasa setiap kali pulang. Bertemu teman-teman. Bermain dan tertawa riang. Meskipun jauh dari kemewahan. Namun tak akan membuatku lupa akan kampung halaman. Meskipun gue lupa, kampung gue berada dihalaman berapa?
Sambil menikmati hari. Kumelihat anak-anak berlari-lari. Tanpa baju dan alas kaki. Dan terlintas dibenakku, puluhan tahun lalu. Saat aku seusia mereka. Bermain kejar-kejaran. Hingga kaki terasa lelah. Namun selelah apapun, tak pernah membuatku mengeluh.
Emang beda ya. Semakin dewasa, manusia justru semakin sering mengeluh.
Hamparan sawah luas membentang. Bergariskan birunya langit dan putih awan. Batang padi seolah melambai-lambai genit saat dihembus mesra sang angin. Sungguh menyejukkan mata. Siapa saja yang melihatnya.
Disinilah. Ditempat ini. Disebuah desa kecil, yang jauh dari hingar-bingar kota. Aku lahir dan dibesarkan. Meski sering mati listrik. Jaringan internet super lemot. Tapi tetap saja selalu berhasil membuatku rindu.
Disanalah keluargaku, sahabat-sahabatku, dan pacar-pacarku berada.
Oke. Untuk yang terakhir hanyalah khayalan. Jadi coret aja.
Menyibakkan rambutku. Dan menerbangkan
Semakin mendekati senja. Angin mulai melambat. Dedaunan tak lagi bergoyang. Burung-burung perlahan berhenti berkicau. Kambing, sapi, kebo dan ayampun mulai kembali ke kandang.
Quote : Bahagia itu sederhana. Maka dari itu, jika kalian ingin bahagia. Makanlah selalu dirumah makan "sederhana".


Tidak ada komentar:
Posting Komentar