EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Selasa, 07 Juli 2015

Pagi Dipinggiran Ibukota

Pagi ini cuaca amat cerah. Mentari bersinar indah. Tapi sayang, tak ada kicauan burung yang terdengar. Tak terdengar pula kokok ayam jantan. Yang ada hanyalah suara gaduh, dari mesin-mesin pabrik yang meraung bak harimau kelaparan. Dan menghasilkan kepulan asap yang membentuk awan hitam.

Aku terjaga dari tidur lelapku. Namun entah mengapa, mata serasa enggan terbuka. Seolah masih ingin hanyut dalam dekapan sang dewi malam.

"Hoamzz,..!!"

Hembusan nafas panjangku, tak ubahnya seperti lenguhan sekawanan kerbau dipadang rumput kala senja.

Kubangkit dari tidurku, dan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Ku buka pintu dan keluar. Berjalan, untuk mencari sarapan. Dan sepiring nasi udukpun telah siap dihadapan.

Sembari makan, mataku tak lepas memperhatikan jalanan. Pengendara kendaraan hilir-mudik silih berganti tak beraturan. Tak jarang ada yang berhenti mendadak, tatkala berpapasan dengan kendaraan dari arah lainnya secara tiba-tiba. Sehingga terlontar hardikan dan umpatan, dari pengendara lain yang nyaris menabrak kendaraan lainnya. Disini, semua seolah tergesa-gesa. Tak ada satupun yang mau mengalah. Sebenernya apa yang mereka kejar?
Waktu?
Bukankah kita yang seharusnya mengatur waktu, bukan kita yang diatur oleh waktu?
Sekilas kumelihat pengendara motor dengan kecepatan tinggi. Dengan knalpot yang bergemuruh bak halilintar. Dan terlontarlah caci maki dari para pejalan kaki, yang mengudara bersama debu jalanan.

Masih ditemani sepiring nasi uduk dihadapan. Ku alihkan pandanganku kearah selatan. Nampak sopir bus yang menaik-turunkan penumpang sembarangan. Dan nyaris dihajar sepeda motor dari belakang. Dan yang kesekian kalinya, kembali terdengar, umpatan dan makian. Meski sedetik kemudian, akan hilang bersama debu jalanan.

"Hmm,.. Mungkin mereka berfikir bahwa jalanan adalah milik nenek moyangnya."

Dari arah kejauhan. Tampak segerombolan anak punk berjalan beriringan. Sesekali kumelihat mereka tertawa lepas. Dengan tattoo disekujur badan. Tak lupa rokok ditangan. Dan kepulan asap, ia hembuskan dari bibir hitamnya. Mereka saling pukul dan tendang. Namun semua hanya sebatas candaan.

"Hmm,.. Sepertinya mereka menikmati hidup dengan lepas, bebas, tanpa beban. Atau itu hanya topeng belaka? Untuk menutupi beban berat yang mereka rasa. Sehingga mereka memilih menjalani hidup dengan penuh kebebasan, dijalanan."

Disudut lainnya. Ditengah-tengah kendaraan, tepat disaat lampu merah menyala. Terlihat wanita setengah baya, yang berjalan menggendong anaknya, seraya membawa mangkok kecil mengharap belas kasih para pengemudi. Namun tak tampak satu pengemudi-pun yang menoleh. Semua acuh. Seolah wanita setengah baya dan anaknya tak ada.

Lalu, dengan perasaan kecewa, menepilah wanita tersebut, dan mulai menghampiri satu-persatu warung yang ada dipinggir jalan. Hingga tibalah, ditempat dimana aku menikmati sarapan pagiku.

"Pak,.." gumamnya lirih sambil menyodorkan mangkok kecil kearahku. Kuhentikan sejenak aktifitas makanku. Lalu ku ambil selembar dua-ribuan dari saku celanaku dan memasukkannya ke mangkok kecil itu, seraya berucap, "Kasihan anaknya, bu."
Dan beliau pun pergi meninggalkanku dengan pertanyaan di otakku.

"Apakah cukup, hanya memberikan selembar uang dua-ribuan? Ah, bagiku itu cukup. Itupun kuberikan atas rasa iba terhadap anaknya. Namun, apabila ibu itu menjajakan dagangan. Maka aku akan membelinya, apapun dagangan tersebut, butuh atau tidaknya akan barang dagangan tersebut. Dan aku membelinya dengan perasaan bahagia. Karena wanita tersebut masih mau berusaha. Bukan hanya mengiba."

Kuarahkan pandangan ke arah lainnya. Tampak dua pemuda terlibat adu mulut. Bahkan saling dorong hingga nyaris adu jotos. Hanya memperebutkan lahan parkir dan persimpangan jalan (pak ogah). Hingga beberapa rekan mereka datang mencoba melerai. Dan dari sayup yang kudengar, sesuap nasi-lah yang menjadi alasan.

"Haruskah, untuk mendapatkan makan saja, harus saling hajar?

Tak terasa. Telah habis nasi uduk dihadapan. Aku nyalakan sebatang rokok dan menghirupnya dalam-dalam. Sekali lagi, aku menatap jalanan. Sebelum langkahku, membawaku pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar