EA-Mine.com - Cloud mining cryptocurrency

Senin, 03 Oktober 2016

Mentari pagi, musik rock, sebatang rokok dan segelas anggur.

Matahari mulai menyingsing. Menampakkan wajahnya dibalik cakrawala. Musik rock menggema dari speakir aktif butut yang gue punya. Gue tenggak segelas anggur, lalu gue hisap dalam-dalam kreasi tembakau yang terselip di antara jari-jemari gue, lalu gue hembuskan dengan kasar. Fyuhh,..!!

Bangun pagi dengan harapan sebuah janji, yang sebenernya gue tau, itu tak akan terbukti. Tapi dengan bodohnya, gue tetap menanti. Meski gue tau, itu hanyalah bualan. Omong kosong!!

Gue tambah volume speakir aktif, yang sedang mengalunkan salah salah satu lagu favorit gue, Estranged. Lengkingan suara khas Axl rose, dan petikan gitar Slash terasa mendamaikan dari emosi pagi ini, tentang sebuah janji. Gue tuang lagi anggur kedalam gelas, lalu masuk kedalam tenggorokan, terasa hangat. Gue nyalakan sebatang rokok, gue hisap dalam-dalam, lalu gue hembuskan dengan kasar. Seperti sebelumnya dan dengan gerakan yang sama. Terasa monoton!! Seperti hidup, yang terkadang terasa monoton.

Perlahan tapi pasti. Mentari mulai menyinari bumi. Musik rock masih menggema, mengalunkan lagu demi lagu. Gelas anggur telah kosong, lalu gue tuang lagi. Gue nyalakan lagi sebatang rokok, gue hisap dalam-dalam, lalu gue hempaskan dengan kasar. Masih sama seperti sebelumnya. Terasa monoton!!

Dalam lamunan pagi ini, gue teringat grup chat beberapa hari lalu, tepatnya malam Minggu. Gue, dan kedua temen gue, asyik membahas tentang orang ketiga, yang sangat kebetulan kami semua merasakannya. Mungkin ini yang disebut teman senasib seperantauan.

Menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan, itu tentu tidak mudah. Kebetulan, beberapa kali gue dalam posisi ini. Posisi yang tentunya kaga ada yang menginginkan. Namun apadaya, terkadang hal seperti ini singgah tanpa pernah kita duga sebelumnya. Salah satu hal tersulit yang gue maksud adalah ketika do'i curhat tentang hubungannya dengan pacarnya. Karna disaat seperti ini, kita harus menjadikan diri kita sebagai sahabat, tanpa membawa perasaan. Karna apabila kita membawa perasaan, tentunya kita akan menjerumuskannya dengan berkata, "putusin cowok lu, maka gue akan membahagiakan lu.". Dan itu menurut gue kaga bijak. Karena di dunia ini kaga ada mahkluk yang sempurna. Dan disaat seperti ini, gue selalu berusaha memberikan masukan dari segi positif dan negatifnya, tentunya tanpa membawa perasaan.

Masih gue ingat dengan jelas celetukan salah satu temen gue, " Mau dia udah jadi istri orang, gue gak bakalan mundur, bakalan tetep maju."
Gue akui, memang terkadang cinta itu membuat kita buta. Dan gue juga mengakui, manusia itu lebih mengutamakan ambisi dari pada logika. Dan untuk hal ini, gue kaga menyalahkan temen gue. Tapi menurut gue, jika kita emang bener-bener sayang, tentunya kita harus ikhlas melepasnya demi kebahagiannya. Dari beberapa kali gue dalam posisi ini, gue jadi paham kenapa temen gue berkata demikian. Jawabannya adalah karena manusia lebih mengutamakan ambisi dari pada logika. Banyak yang bilang, "selama janur kuning belum melengkung, kesempatan masih terbuka lebar."
Lalu bagaimana jika janur kuning tersebut telah melengkung? "Kita robohin aja biar kaga melengkung."

Memang seperti itulah. Saat-saat yang berat menjadi orang yang ketiga adalah disaat menghitung mundur waktu dimana dia akan bersanding bersama orang lain. Tapi percayalah, disaat hari itu tiba, hari dimana dia menyongsong kebahagiannya dengan orang yang akan membahagiakannya, kita akan tersadar, bahwa kita kaga punya kesempatan lagi untuk memilikinya. Dan setelahnya, tak ada hal lagi yang istimewa. Semuanya akan tertata rapi dalam sebuah kenangan. Dia kini telah menjadi sebuah kenangan. Yang mungkin akan tetap tersimpan di dalam jiwa.

Mentari semakin meninggi. Musik rock masih menggema. Tanpa terasa, sebotol anggur telah habis, dan sebungkus rokok, pun, demikian. Selamat pagi, kawan. Semoga kalian semua bisa memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang kalian cinta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar