Aku terduduk sendiri dibangku taman. Menatap jauh dengan tatapan kosong. Membayangkan apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan. Dan anganku pun melayang ke masa 12 purnama silam.
##################
Aku melihatnya dari kejauhan. Ketika itu, aku masih berusia 6 tahun. Sesosok wanita yang sungguh membuatku terpesona. Bukan matanya, rambutnya, ataupun wajahnya. Namun ingus yang naik turun dengan indahnya dihidung peseknya. Yang menciptakan gelembung-gelembung yang berkilauan. Laksana balon-balon yang memantulkan cahaya. Sehingga menciptakan warna-warni pelangi. Pelangi indah dari ingus yang naik-turun dihidungmu. Dan seketika itu juga, mampu menggetarkan rasa.
Masih dihari yang sama. Tetap ditempat yang sama.
Semenjak hari itu. Aku sering bermain ke taman ini. Hanya untuk melihatmu, meski hanya dari kejauhan. Hanya untuk sejenak melepas rinduku, akan ingus indahmu. Dan aku jadi tau. Bahwa setiap libur, kau dan keluargamu selalu datang ke taman ini. Aku bingung, mengapa keluargamu senang sekali bermain ke taman ini? Dan aku mulai menerka-nerka. Mungkin orang tuamu terlalu pelit untuk mengeluarkan sedikit uang, untuk membayar tiket masuk ke taman hiburan.
Dan kala itu, aku mendengar kakakmu menyebut namamu.
"Hey, cinta! Kita main-main balon dari ingus yuks?"
"Oke! Ingus siapa yang menggelembung paling besar, dialah yang menang."
Dan mulailah kalian berlomba menggelembungkan ingus. Dan saat itu aku sungguh takjub. Kau mampu menggelembungkan ingusmu hingga sebesar bola basket. Eh, ga deng! Sebesar bola bekel. Dan aku hanya mampu berdecak kagum, melihat keahlianmu menggelembungkan ingus.
Tak terasa, dua belas purnama telah berlalu. Dan selama itu, aku terus mencarimu. Setiap kali bertemu wanita bernama cinta, aku selalu meminta untuk menggelembungkan ingus. Dan kamu tau apa yang aku dapatkan? Tamparan indah yang mendarat di pipiku. Namun aku tak menyerah. Meskipun telah beribu kali, aku digampar wanita bernama cinta. Aku tak putus asa. Hingga kemarin. Di taman ini. Pukul 3 sore, yang bisa lebih ataupun kurang. Sudah kubilang, aku tak pedulikan itu. Kurang atau lebihnya, tidak ada untung atau ruginya bagiku.
Sore itu. Aku sedang duduk sendiri disini. Berharap menemukan keajaiban, untuk dapat bertemu denganmu. Hingga mataku menemukan sesosok wanita yang berjalan dengan gagahnya. Dengan kedua tangan masuk ke dalam kantong jaket. Sambil berjalan, dengan cueknya kau menggelembungkan ingusmu. Itu sungguh terlihat cool dimataku. Gayamu mengingatkanku dengan Lupus.
Saat kau berlalu di depan gigiku, tak kusadari bibir ini berucap.
"Cinta!"
Dan kaupun menghentikan langkahmu seraya menoleh ke arahku. Dan kau mengarahkan telunjukmu ke dadamu.
"Kamu Cinta?"
"Iya. Kamu siapa ya?"
"Bener, kamu Cinta?" tanyaku masih tak percaya.
"Iyalah, gue Cinta. Masak Dijah kuning!" jawabmu ketus.
"Bener, kamu Cinta?" tanyaku masih tak percaya juga.
"Yailah bro, sebenernya lu siapa sih?!"
"Bener, kamu cinta!?"
"Woi! Dari tadi tanya, bener kamu Cinta! Bener, kamu cinta! Capek nih gue ngetiknya!!"
Seketika terdengar teriakan sang penulis yang entah darimana asalnya.
"Tuh, kan. Ada yang marah. Kamu sih, menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang!"
"Biarin aja, Cinta. Mungkin dia lelah."
"Tapi benerkan, kamu Cinta?"
"Woi! Udah gue bilang, capek nih gue ngetiknya! Kaga ada dialog lain apa! Dasar tokoh fiksi amatir!!"
"Hellow!! Lu tuh yang kaga kreatif! Dasar penulis gadungan!!"
"Hei,.. Hei,.. Hei,..!! Gue emang bukan penulis. Gue cuma lagi belajar ngetik!!"
"Udah ah. Koq, malah pada ribut. Entar gak selesai loh ceritanya."
"Biarin aja, Cint. Dasar tuh penulis gadungan!"
Dan saat itu juga, aku menceritakan semuanya. Tentang kekagumanku pada bakatmu. Iya! Bakat menggelembungkan ingus. Dan kaupun terperanjat. Hingga tanpa kau sadari, kau melotot hingga biji matamu nyaris keluar. Dan saat itu juga, kita berbagi kontak. Kau memberikan kontak bemomu. Dan aku, memberikan kontak bajajku. Eh, ga deng! Gak jadi tukeran kontak, tapi janji untuk bertemu disini esok hari. Karena kau tergesa-gesa untuk mengajar murid-muridmu. Mengajarkan bakatmu, menggelembungkan ingus, kepada anak didikmu.
"Woi!! Ngelamun aja. Udah dari tadi?"
"Ah,.. Eh,.." jawabku terbata.
"Udah dari tadi?" Kau mengulangi pertanyaanmu yang belum ku jawab.
"Belum koq, baru aja."
"Ngelamunin apaan sih lu, serius amat?"
"Ah. Ga ada koq."
Dan keheningan menyelimuti kita berdua.Dan sayup-sayup terdengar lagu lingsir wengi yang entah dari mana asalnya. Sungguh romantis bukan?
"Hei! Koq, gantian. Kamu yang ngelamun?" Tanyaku sambil mendorongnya, bahkan nyaris jatuh.
"Nggak koq."
"Awas, jangan kebanyakan ngelamun. Entar ayam tetangga pada mati." Kelakarku mencoba mencairkan suasana.
"Tetangga gue udah kaga ada yang punya ayam. Udah gue sikat semua buat dibakar!"
"Gile ya. Cewek-cewek badung juga ternyata."
"Hee,.."
Dan keheningan kembali menghantui kita. Hanya terdengar segerombolan jomblo yang sedang curhat dengan sekawanan kecoa dibawah bangku taman. Sungguh! Suara mereka amat mengganggu suasana romantisku bersama Cinta. Tangisan mereka sungguh memekakkan telinga. Dasar jomblo!!
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanyaku melepas keheningan ini.
"Hmm."
Hanya gumaman yang kau berikan.
"Aku ingin jujur. Bahwa aku mencintaimu. Sejak usia kita menginjak enam tahun."
"Hmm. Mengapa harus tunggu dua belas purnama untuk mengatakan ini?"
"Hellow!! Dulu lu masih balita keles. Jadi kaga bakalan gue nulis cerita cinta anak balita. Bisa di panggil KPAI gue!!!"
"Ishh!! Ini penulis gadungan berisik aja ya. Kasih suasana yang romantis kenapa!?"
Angin berhembus mengibas rambutmu. Dan daun-daun yang berguguran beterbangan diantara kita. Gemerlap sinar dari kunang-kunangpun bergemerlap indah. Dan satu pertanyaan yang menyeruak di otakku. Sejak kapan ada kunang-kunang memancarkan cahayanya di siang hari?
"Sudah sejak dulu, aku ingin mengutarakan ini. Tapi aku tak tau, kamu dimana? Jadi jangan salahkan aku, hingga dua belas purnama baru mengutarakan ini semua. Salahkan bulan purnamanya saja. Kenapa dia buru-buru bersinar yang ke dua belas."
Dan sang Bulan purnama pun nangis di kolong bangku taman sambil curhat sama semut, bersama segerombolan jomblo ngenes.
"Hmm. Gimana ya? Aku mau daftar member jkt48 generasi 48. Kamu tau kan, kalo di jkt48 gak boleh pacaran?!"
Dan keheningan kembali terjadi di antara kita. Hanya suara segerombolan jomblo yang terdengar semakin memekakkan telinga. Dan sepertinya, mereka sedang menertawaiku. Atau mungkin, mereka sedang bahagia. Karena spesies mereka bertambah satu. Eh! Gak deng! Tapi bertambah dua. Sama yang nulis ini.
Dan sayup-sayup terdengar lagu yang sangat menyayat hati yang entah dari mana datangnya.
Ah, mungkin bagi dirimu.
Hanya temen sekelas saja.
Yang jalan, pulangnya searah.
Keberadaan yang seperti angin.
Miris bangetkan? Keberadaan gue cuma di anggep seperti angin. Berarti gue cuma di anggep kentut dong!
Tamat.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jadi apabila ingin muntah. Muntahkan saja. Ke muka penulisnya juga kaga kenapa-napa.
Sekian dan terima sumbangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar